Warung Jamu Ginggang Melegenda di Yogyakarta

warung jamu ginggang
Olahan minuman jamu di Warung Jamu Ginggang. (dok. Dispar Kota Yogyakarta)

 

BandungKlik – Di Yogyakarta, jamu tradisional Jawa banyak dijual di warung atau kedai khusus. Seperti Warung Jamu Ginggang yang telah melegenda di Kota Gudeg tersebut.

Warung Jamu Ginggang sudah berdiri sejak tahun 1950 dan menjadi pelopor industri jamu di Yogyakarta. Di sana, para pembeli bisa menikmati jamu di tempat. Tinggal pilih menu jamu yang tersedia.

Pembeli juga bisa menyebutkan keluhan kesehatan kepada penjualnya, nanti akan diberikan jamu yang sesuai. Umumnya, jamu yang tersedia berupa racikan standar untuk perut kembung, masuk angin, flu perut, atau sakit perut.

Menurut Rudy Supriyadi penerus Jamu Ginggang generasi ke 5, resep yang digunakan merupakan resep dari mbah buyut bernama Mbah Joyo. Seorang abdi dalem Kraton Puro Pakualaman yang diberi tugas membuat jamu.

Silakan baca: Campurkan 7 Bahan Ini, Minuman Makin Berkhasiat

“Sampai sekarang kami masih memakai resep dari Simbah dan resepnya kami bukukan serta pertahankan. Jadi Jamu Ginggang masih original dari resep aslinya dan proses pembuatannya,” ujarnya, dikutip dari laman pariwisata.jogjakota.go.id.

Sejak 1930

Usaha jamu ini mulai dirintis sejak 1930 oleh Bilowo yang merupakan abdi dalem Puro Pakualaman. Ia seorang pembuat jamu untuk Kanjeng Sinuwun Paku Alam VII. Kemudian atas seizin dari Paku Alam VII, Bilowo akhirnya memulai berdagang jamu.

“Saya penerus generasi ke 5. Pertama adalah Mbah Joyo, lalu Mbah Bilowo, kemudian Mbah Puspomadyo, Bu Dasiyah, dan sekarang saya Rudy Supriyadi. Konsumen jamu dibagi menjadi 3 yaitu remaja SMP yang biasanya pertama kali menstruasi. Lalu dewasa dan orang tua yang rutin selalu datang,” papar Rudy.

Rudy juga menyebutkan, menu jamu yang paling diminati, antara lain kunir, beras kencur, temulawak, dan empon-empon.

Nama Ginggang sendiri merupakan pemberian dari Sri Paku Alaman VI. Secara lengkap bernama ‘Jamu Jawa Asli Tan Ginggang’. Tan Ginggang berasal dari bahasa Jawa yang artinya selalu akrab, rukun dan bersatu. Diharapkan warung jamu ini bisa selalu membuat warga jadi rukun.

Silakan baca: Piknik Budaya ke Kampung Wisata Pakualaman Yogyakarta

Produksi jamu di Warung Jamu Ginggang dimulai dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB. Harga yang ditawarkan untuk segelas jamunya pun sangat terjangkau.*