Vihara Avalokitesvara, Situs Oriental di Banten Lama

vihara avalokitesvara
Vihara Avalokitesvara. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik Namanya Vihara Avalokitesvara, vihara tertua di Provinsi Banten. Situs oriental ini terletak sekira 15 kilometer arah utara Kasemen Banten Lama Kota Serang.

Tak jauh dari lokasi ini, tepatnya di seberang vihara, membentang sisa reruntuhan benteng Spellwijk peninggalan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Meski berada di tengah lingkungan masyarakat Muslim Banten yang taat, vihara dengan bangunan khas Tionghoa ini tetap terjaga. Hal itu menunjukkan toleransi antarumat beragama yang terpupuk sudah lama, tepatnya sejak Kerajaan Banten berjaya hingga sekarang.

Vihara Avalokitesvara tak hanya menjadi tempat beribadah dan dikunjungi umat Buddha dan penganut kepercayaan Kong Hu Cu dan Taoisme. Wisatawan beragama lain pun diperbolehkan berkunjung dan melihat dari dekat bangunan oriental yang masuk dalam daftar cagar budaya ini.

Silakan baca:

5 Ucapan untuk Tahun Baru Imlek 2021, Tahun Shio Kerbau

Dua buah patung naga di pintu gerbang bagian atas menyambut siapa saja yang datang. Bangunan Vihara Avalokitesvara nampak anggun dan megah meski usianya sudah tua. Seperti umumnya warna vihara, bangunan ini pun didominasi warna merah dan emas serta sedikit biru muda.

Berdiri di atas area mencapai 10 hektare, Vihara Avalokitesvara dibangun pada tahun 1652. Pembangunannya berlangsung pada masa emas Kerajaan Banten saat dipimpin Sultan Ageng Tirtayasa. Konon, pembangunannya tak lepas dari peran Syarif Hidayatullah yang juga dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Altar Vihara Avalokitesvara
Altar Vihara Avalokitesvara. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Di dalam vihara terdapat altar dan patung Dewi Kwam Im. Tepat di samping altar tersebut ada tiang batu berukir naga yang menopang bangunan utama. Sementara di koridor yang menghubungkan tempat beribadah, terdapat relief yang mengisahkan banyak hal seperti kegiatan beribadah.

Ada banyak kisah dan sejarah yang melekat di vihara yang namanya diambil dari nama seorang Buddha tersebut. Salah satunya mengisahkan, vihara ini pernah digunakan sebagai tempat berlindung saat tsunami dan letusan Gunung Krakatau pada 1883. *

Silakan baca:

Keraton Kaibon, Istana Megah Ibunda Sultan Banten