BandungKlik – Berkegiatan selancar dengan gulungan ombak biasanya dilakukan di perairan pantai. Namun di Kabupaten Pelalawan, Riau sungguh unik, selancar dilakukan di aliran Sungai Kampar dengan ombak yang dikenal dengan Bono.

Sungai Kampar sendiri memiliki panjang sekitar 413 km dengan hulu di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dan bermuara di Selat Malaka. Di sungai ini ada suatu fenomena alam berupa ombak besar bergulung-gulung.

Fenomena tersebut terjadi karena adanya pertemuan dua arus, yakni arus sungai menuju laut dengan arus yang masuk ke sungai akibat air pasang (tidal bore). Gelombang dari Selat Malaka dan Laut Cina Selatan akan menerobos ke muara sungai.

Saat arus melewati celah yang semakin menyempit dan dangkal dari daerah aliran Sungai Kampar akan semakin cepat dan terjadi benturan besar karena bertemu aliran sungai. Sehingga terjadi turbulensi dan menghasilkan ombak tinggi disertai dentuman keras.

Gulungan ombaknya disebut dengan Bono, yang dalam istilah masyarakat setempat berarti ‘berani’. Kecepatannya, rata-rata 40 km per jam. Berbeda dengan ombak di laut, ombak bono bisa mencapai panjang 200 meter hingga 2 kilometer.

Tercatat, tinggi ombak bono pernah mencapai 4-5 meter, terus menerjang selama sekitar 2 jam dengan jarak tempuh sejauh 50-60 km/jam. Menyisir sepanjang daerah aliran sungai dari muara di Desa Pulau Muda menuju Desa Teluk Meranti dan Tanjung Mentangor.

Bono memang tidak datang setiap saat, tapi hanya muncul ketika terjadi bulan purnama (full moon) di penanggalan 12-16 hijriah atau pada Oktober hingga Desember ketika puncak musim hujan. Selain itu, ombak bono biasanya juga terjadi pada Februari hingga Maret.

Cerita Masyarakat

Menurut cerita masyarakat Melayu Lama yakni kisah “Sentadu Gunung Laut”, ombak bono terjadi karena perwujudan tujuh hantu. Diyakini sering menghancurkan sampan maupun kapal melintasi Sungai Kampar.

Hantu itu diwujudkan dalam bentuk tujuh gulungan ombak mulai dari yang terbesar hingga terkecil. Ombak besar adalah ombak yang paling ditakuti masyarakat, sehingga untuk melewatinya perlu diadakan semah.

Semah merupakan semacam upacara yang dipimpin tetua adat setempat, biasa dilakukan pada pagi atau siang hari. Di samping itu, ombak bono juga sering dijadikan ajang uji nyali bagi para pendekar Melayu pesisir, dalam meningkatkan keahlian bertarung mereka.

Berbekal keunikannya, Bono dilirik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan sebagai sebuah potensi wisata. Terutama untuk wisata minat khusus bagi para peselancar.

Pemkab Pelalawan pun kerap menggelar event tahunan yang bernama “International Bono Surfing Festival” serta “Bekudo Bono”. Akhirnya Bono Sungai Kampar mendunia sejak dikunjungi oleh Antony Colas, penulis buku panduan berselancar terkemuka, Wolrd Stormrider Guide, pada September 2010.

Peselancar Dunia

Colas dibuat tercengang dengan gulungan besar ombak sungai sejauh 50 km. Hal ini mengundang rasa penasaran peselancar juara dunia tiga kali asal Amerika, Tom Curren.

Peselancar senior berusia 60 tahun ini juga mengajak dua rekannya Bruno Santos dan Dean Brady. Mereka sukses selancar di ombak Bono selama 1 jam pada maret 2011.

Di sungai ini pun, pernah terjadi pemecahan rekor dunia berselancar terlama yang tercatat dalam Guiness Book of The World Record yang diraih oleh James Cotton. Dengan berselancar di atas ombak Bono setinggi 3,5 meter hingga sejauh 17,2 km selama 1 jam 20 menit.

Bagi para wisatawan yang tak tertarik untuk berselancar, seperti juga masyarakat setempat, bisa juga hanya menyaksikan fenomena alam ini. Tepatnya di Desa Teluk Meranti dekat muara Sungai Serkap atau di Desa Pulau Muda.

Di sana, pengunjung bisa menyaksikan ombak Bono dengan mendaki beberapa bukit kecil. Rute dari Pekanbaru, perlu menempuh perjalanan darat selama 4 jam. Kemudian dilanjutkan menggunakan kapal cepat (speedboat) menuju Desa Teluk Meranti atau Desa Pulau Muda.*

 

 

Sumber & Foto: Dispar Prov. Riau