Unik, Kalung Balung dari Bandung Dibikin Hanya 20 Menit

kalung balung
Kalung hias etnik berbahan balung atau tulang sapi. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Anda penyuka mi kocok dan mi bakso? Ya, dua makanan ini seringkali ditemani balung dalam penyajiannya. Tulang kaki sapi—dengan secuil kulit, daging dan sumsum, menjadi hidangan yang punya tempat tersendiri.

Namun siapa sangka, tulang keras yang bakal dibuang itu dapat kembali bernilai ekonomi. Dari Bandung, balung disulap jadi kalung.

Di tangan pengrajin Kosim Karni, tulang keras susah terurai tersebut diolah menjadi kriya yang estetis dan artistik.  Untuk desain kalung sederhana seukuran ibu jari, hanya duapuluh menit langsung jadi. Jika agak rumit, rata-rata lebih dari satu jam.

Kosim menilai, bahan-bahan daur ulang yang dibuat menjadi karya seni jauh lebih dihargai. “Selain mendukung soal lingkungan, saya fokus berkarya pada hal-hal bernuansa etnik karena lebih unik,” ujar Kosim, beberapa waktu lalu.

Di bilangan Kanayakan Bandung, ia berkarya saban hari. Boleh dikata modal yang diperlukan untuk sebuah kalung adakalanya tak besar. Ia beroleh bahan baku dari jerih payahnya mengumpul tulang. Tentu saja, dari pedagang mi bakso dan mi kocok di sekitarnya.

Ia punya filosofi, sampah pun jika diolah akan punya nilai kembali. Oleh karena itulah, ia beri nama dagang untuk karyanya Ladieg Art. Katanya, nama tersebut berarti kusam, seperti rona tulang.

Sejak terjun di dunia kriya pada tahun 2003, rupa karyanya kebanyakan bermotif etnik di nusantara. Sebut saja di antaranya Asmat, Dayak, dan Papua. Sedangkan motif khusus semisal Egypt dan Aztec dibikinnya jika ada pesanan. Tak hanya itu, Kosim pun apik mengukir balung menjadi rupa wajah tiga dimensi.

kriya limbah
Kriya dari limbah kayu dan karung goni karya Kosim Karni. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Selain dari tulang, material limbah lainnya yang dibuat antara lain karung goni, kayu bekas, biji-bijian, tanduk, batok kelapa, kerang dan tulang ikan. Oleh karena diukir dan dibentuk secara manual, maka tak ada kalung balung yang sama persis. “Itu salah satu keunikannya,” ucap Kosim. *

Silakan baca:

Seni Reak, Antara Menghibur dan Kesurupan