Travel Bubble, Apa Itu? Ini Penjelasan Selengkapnya

travel bubble
Ilustrasi travel bubble. (dok. voliweb.it).*

 

BandungKlik – Travel bubble makin diminati oleh sejumlah negara untuk mengawali kembali perjalanan lintas negara di tengah wabah Covid-19. Indonesia juga akan menerapkan ide tersebut dengan beberapa negara.

Lantas, apa itu travel bubble?

Ide ini sebetulnya sudah digagas sejak pertengahan tahun lalu. Di kawasan Asia Tenggara, 10 kepala negara anggota ASEAN menyetujui diberlakukannya travel bubble. Ke-10 negara tersebut adalah Indonesia, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Myanmar, Filipina, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura.

Kesepakatan tersebut diputuskan dalam ASEAN Summit ke-37 yang berlangsung di Vietnam, 12 November 2020. Disampaikan, masing-masing negara berkomitmen untuk memelihara hubungan wilayah dengan memfasilitasi pergerakan orang untuk bisnis.

Secara sederhana travel bubble adalah gelembung perjalanan. Kadang-kadang disebut juga travel corridor atau koridor perjalanan.

Silakan baca:

15 Alasan Indonesia Jadi Destinasi Liburan Berikutnya

Dikutip dari Forbes, idenya adalah dua atau lebih negara yang berhasil mengontrol atau mengurangi dampak Covid-19 setuju untuk membuat gelembung. Maksudnya, orang yang tinggal di dalam gelembung dapat bepergian dengan bebas dan menghindari persyaratan wajib karantina mandiri. Langkah ini akan memangkas birokrasi sehingga orang dapat melintasi perbatasan dengan sedikit kerumitan.

Di Eropa misalnya. Tiga negara yakni Estonia, Latvia, dan Lituania membuka perbatasan mereka satu sama lain untuk menciptakan gelembung Baltik. Perdana Menteri Lituania Saulius Skvernelis waktu itu mengatakan, “kesempatan bagi bisnis dibuka lagi. Dan secercah harapan bagi masyarakat bahwa hidup kembali normal.”

Namun, pelancong lain di luar gelembung bahkan sesama Eropa sekalipun masih harus mengisolasi diri selama 14 hari.

Travel bubble sebetulnya tidak memihak negara mana pun. Satu-satunya syarat dasar dan universal yang efektif adalah penghapusan karantina atau isolasi mandiri.

Salah satu manfaat ide ini tentu meningkatkan industri perjalanan dan pariwisata. Secara umum, travel bubble diterapkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi bagi negara yang terdampak pandemi Covid-19. *

Silakan baca:

Inilah 7 Alasan Turis Senang Wisata ke Indonesia