Topi Tikar Aru, Kreasi Budaya Khas Kepulauan Aru

Topi Tikar Aru
Topi Tikar Aru

 

BandungKlik – Topi Tikar Aru merupakan kreasi budaya khas Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Topi tersebut dibuat dan dimodifikasi dua orang perempuan Aru, yakni Heny dan Sari.

Bahan dasar Topi Tikar Aru yaitu daun pandan yang biasanya didapat dari hutan. Proses pembuatannya diawali dengan melepas duri dari daun, kemudian dijemur hingga kering selama beberapa hari.

Setelah kering, daun pandan dilembutkan menggunakan pisau. Lalu digunting kecil-kecil agar dapat dianyam.

Pemilihan daun pandan sebagai bahan, karena dinilai mempunyai tekstur yang cocok untuk dianyam. Dalam satu hari, Sari dapat menghasilkan sampai sekitar 10 topi.

Usai dianyam, barulah diberikan kepada Henny untuk dipasangkan bulu-bulu hewan, seperti ayam, bebek, dan cendrawasih. Selain bulu-buluan, juga menambah aksesori tambahan berupa kerang.

Kerang itu dapat berfungsi sebagai wadah untuk menempelkan bulu-bulu tadi. Selanjutnya, masuk ke proses pewarnaan bulu yang disesuaikan dengan permintaan atau keserasian.

Proses pewarnaan dimulai dengan mengecat bulu menggunakan cat lukis. Lalu ditambah lem kertas di atas cat agar awet serta berkilau.

Soal harganya masih cukup terjangkau, berkisar antara 100-150 ribu rupiah tergantung pemesanan. Usaha yang telah berlangsung sejak 2019 ini, sempat berjaya sebelum pandemi melanda. Biasanya, karya dua perempuan tersebut mudah ditemui pada pameran-pameran acara pemerintah daerah Kabupaten Aru.

Silakan baca: Parang Salawaku, Senjata Tradisional Maluku

Selain menjadi cendera mata, Topi Tikar Aru juga telah menjadi salah satu aksesori yang dikenakan ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aru setiap hari Kamis.

Hal itu pun menjadi salah satu cara untuk selalu melestarikan produk kreasi ekraf setempat. Agar dapat selalu hidup dan berkembang menjadi lebih baik di era digital ini.*

 

 

Sumber & Foto: Dispar Prov. Maluku