Tari Bedana, Tarian Gembira Sarat Makna

tari bedana
Tarian bedana ditampilkan pasangan remaja di Negeri Olok Gading, Bandar Lampung. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Tari bedana acap ditampilkan riang dan gembira. Di dalam tari tradisional Lampung ini terdapat makna filosofis yang disampaikan seturut syariat Islam.

“Misalnya, tarian diawali takzim yaitu salam penghormatan kepada pemusik dan penonton. Lalu, ada salam penutup yang disebut tahtim,” kata Hanafiah, pelaku seni yang mendalami tari bedana di Negeri Olok Gading, Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Pria yang pandai menari bedana itu menuturkan, tari ini berkembang sejak adanya penyebaran Islam ke wilayah Lampung. Tarian tersebut dari pesisir teluk jazirah Arab yang dibawa orang-orang Arab ke bumi Lampung. Sekira abad ke-17 dan 18 terjadi akulturasi dengan budaya lokal.

Teluk Betung menjadi wilayah yang turut berperan mengapungkan nama tari bedana ke seantero nusantara. Di Negeri Olok Gading, tari ini dikembangkan Mansur Toyib kemudian diwariskan secara turun-temurun sejak 1940-an.

Tari bedana minimal ditampilkan dua orang atau sepasang. Dulu, memang hanya dilakoni pria. Akan tetapi, seiring perkembangannya juga ditampilkan perempuan dengan tidak mengurangi etika dan syariat Islam. Sebab, sisi lain yang terkandung dalam tarian ini adalah dakwah.

Tarian bedana punya pakem gerak sebanyak 17 gerakan yang masing-masing punya makna dan pesan agung. Misalnya, dalam gerak “lapah” yang berarti berjalan. Makna yang hendak disampaikan adalah dalam menjalani kehidupan tidak menyimpang syariat Islam.

Untuk itu, penari bukan hanya menghafal gerakan tetapi mampu menghayati makna saat menari. Musik pengiring tarian energik ini bisa gambus, ketipung, marawis ataupun rebana yang dipadukan dengan akordion dan biola sebagai instrumen tambahan.

Sebagai bentuk pelestarian, tari bedana seringkali ditampilkan saat perayaan hari besar, ketika ada tamu agung, pernikahan, khitanan hingga ketika ada anggota keluarga yang khatam membaca Alquran.

“Kami berusaha menjaga warisan orang tua dan guru-guru kami, terutama soal keaslian gerakan dan makna filosofis kepada generasi sekarang. Harapannya, jangan sampai hilang atau tercampur dengan sesuatu yang bukan dari warisan,” kata Hanafiah. *

Silakan baca:

Pugung Raharjo, Taman Purbakala di Lampung Timur