BandungKlik – Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof. Dr. H. Edi Setiadi, SH., MH., menanggapi dugaan penipuan berkedok arisan yang dilakukan Mahasiswi Unisba berinisial JZF (20). Dugaan penipuannya dilakukan terhadap 120 orang yang mayoritas mahasiswa Unisba.

Tanggapan Rektor Unisba tersebut disampaikan dalam press conference, Jumat, (3/11/2023). Bertempat di Ruang Rapat Rektor, Gedung Rektorat Unisba, Jalan Taman Sari, Kota Bandung. Turut mendampingi rektor, Kepala Bagian Komunikasi dan Humas Unisba Firmansyah, S.I. Kom., M.Si.

Pada kesempatan itu, Prof Edi Setiadi mengakui mahasiswi Unisba berinisial JZF merupakan mahasiswa aktif Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisba.

“Mahasiswi ini secara akademik aktif di Unisba karena rutin melakukan pembayaran uang kuliah, namun saat ini sudah tidak masuk kuliah,” ungkap Prof Edi Setiadi.

Prof Edi Setiadi menegaskan, kasus dugaan penipuan yang dilakukan mahasiswi Unisba tersebut tidak ada sangkut pautnya dengan institusi Unisba.

“Setiap tindak pidana yang dilakukan mahasiswi Unisba merupakan tanggung jawab pribadi. Namun dalam kasus ini kami tidak tinggal diam karena pelaku dan korban merupakan mahasiswa kami,” ujarnya.

Masih menurutnya, dalam kasus dugaan penipuan di lingkungan Unisba ini sudah dilakukan mediasi antara pelaku dan korban.

“Kerugian yang dialami para korban berjumlah 120 orang ini tidak mencapai miliaran rupiah, karena sebagian keuntungan sudah dibayarkan kepada korban oleh pelaku. Bahkan sudah ada perjanjian antara pelaku dan korban bahwa pelaku berjanji akan mengembalikan uang para korban. Dan para korban sudah menyetujui, serta kasus ini merupakan kasus perdata,” paparnya.

Lebih lanjut Prof Edi Setiadi menegaskan, apabila ada pelaporan pidana, tentunya pihak Rektorat Unisba punya aturan.

“Bisa diskorsing ataupun pemutusan sebagai mahasiawa Unisba. Kalau mahasiswi tersebut sudah menjadi tersangka tentu kami mengambil langkah skorsing, bahkan pemutusan studi,” sebutnya.

Pusat Bantuan & Konsultasi Hukum

Rektor Unisba Prof. Edi Setiadi juga menyampaikan, Unisba memiliki Pusat Bantuan dan Konsultasi Hukum.

“Sengketa antara korban dan pelaku merupakan kasus perdata, namun apabila berkembang menjadi pidana kita belum tahu. Karena pihak Rektorat belum mendapat laporan. Para korban yang sudah diberikan konsultasi dan bantuan hukum oleh pihak Unisba sebanyak tujuh orang,” terangnya.

“Namun apabila para korban menggunakan bantuan Pengacara, kami dari pihak Unisba tidak akan mendampingi karena terkait kode etik,” tambah Prof. Edi.

Ia juga menjelaskan kabar yang beredar bahwa mahasiswi yang diduga melakukan tindakan penipuan tersebut, melaksanakannya bersama pacarnya.

“Mereka berdua sudah menikah walaupun masih kuliah di Unisba, dan kabarnya mereka berdua sudah tidak kuliah di Unisba,” ujarnya.

Di akhir pemaparannya, Prof. Edi Setiadi mengatakan, akan berupaya untuk menyelamatkan semua mahasiswa Unisba dan akan memanggil orang tua para pelaku.

“Saya harus menyelamatkan mahasiswa kami yang berjumlah 13.000 orang. Maka dari itu, dalam kasus ini kami akan memanggil pelaku dugaan penipuan dan orang tuanya hari Senin depan,” pungkasnya.

Silakan baca: Enam Hotel Legendaris di Kota Bandung

Sementara itu, Kepala Bagian Komunikasi dan Humas Unisba Firmansyah, S.I. Kom., M.Si., menambahkan, dalam kasus penipuan yang dilakukan mahasiswi Unisba ada dugaan skema Ponzi.

“Mahasiswi ini melakukan bisnis sejak Maret 2023, ada korban yang berinvestasi sebesar 60 juta. Namun sudah dikembalikan maka kerugiannya hanya sebesar 5 juta rupiah. Hal ini terjadi karena pelaku mungkin salah investasi, namun pastinya banyak uang para korban yang sudah dikembalikan,” jelasnya.*