Sumpah Pemuda 1928 : “Tak Ada Kata Merdeka”

sumpah pemuda
Peserta Kongres Pemuda II. *

 

Jika tahun 1908 timbul kesadaran bangsa untuk bangkit, maka pada 1928 menyeruak kesadaran bangsa untuk bersatu. Sumpah Pemuda!

 

BandungKlik – Ya,  bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Semua itu terikrar dalam Kongres Pemuda II Indonesia pada 27-28 Oktober 1928. Putusan kongres yang berlangsung di Indonesische Clubgebouw (kini Museum Sumpah Pemuda), Jalan Kramat Raya 106 Jakarta tersebut kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda.

Namun, kongres yang digelar Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) berjalan tak semulus sebagaimana para peserta harapkan. Ada hal-hal yang sengaja “disembunyikan” dan tentu saja tak dikemukakan di depan umum. Sebabnya, polisi Belanda siaga memantau dan mengawasi tindak tanduk peserta kongres. Di satu sisi, jiwa nasionalisme terus menguat dan menggelora di kalangan pemuda.

Waktu itu, boleh dibilang sekali berpekik merdeka saja ceritanya akan lain. Kata “merdeka” distempel sebagai kata “haram” oleh Pemerintah Hindia Belanda. Sekali waktu, polisi Belanda protes lantaran kata yang dilarang itu digunakan peserta kongres.

Namun, Soegondo Djojopoespito, sang pemimpin rapat cukup cakap dan banyak akal. “Jangan gunakan kata “kemerdekaan”, sebab rapat malam ini bukan rapat politik dan harap tahu sama saja,” begitu pintanya seraya disambut tepuk tangan riuh dan tawa hadirin.

Hal serupa juga terjadi saat WR Supratman hendak memperdengarkan lagu Indonesia Raya, kelak menjadi lagu kebangsaan. Menyimak judul “Indonesia Raya” dan begitu banyak kata “merdeka” serta “Indonesia” dalam syairnya, Soegondo melirik para polisi pengawas. Ia khawatir rapat dapat dibubarkan secara paksa jika lagu dilantunkan dengan syairnya.

Singkat kata, Soegondo mempersilakan WR Supratman melantunkan lagu gubahannya tanpa syair. Akhirnya, lagu hanya dilantukan dengan gesekan biola sang komponis.

Silakan baca: WR Supratman, sang Komponis Muda Indonesia Raya

Trik khusus

Memang, ada-ada saja trik kaum pergerakan dalam mengelabui polisi Belanda. SK Trimurti, salah seorang tokoh pergerakan menulis sebuah cerita unik di buku “Bunga Rampai Soempah Pemoeda” (Balai Pustaka, 1978). Ada trik khusus agar rapat organisasi pemuda yang dianggap radikal oleh Belanda tidak dibubarkan paksa polisi, begitu tulisnya.

Suatu tempo, para pemuda nyaris ditangkap polisi karena menggelar rapat meski akhirnya lolos. Ketika penggerebekan, para peserta rapat berganti sikap. Rapat yang semula serius berubah menjadi acara tari-menari. *

Silakan baca: Oto Iskandar Di Nata, Tajam Mengecam Penjajahan