Sultan Siak terakhir—Sultan Syarif Kasim II, mendukung penuh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu bentuk dukungannya adalah menyumbangkan hartanya yang bernilai fantastis.

 

BandungKlik – Sultan Syarif Kasim II naik tahta pada usia 21 tahun. Ia menggantikan ayahnya, Sultan Syarif Hasyim.

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin lahir di Siak Sri Indrapura Riau pada 1 Desember 1893. Tercatat, beliau adalah sultan ke-12 sekaligus pewaris tahta Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Semasa kecil beliau dididik di lingkungan istana lazimnya adat istiadat para raja meliputi fisik, mental, spiritual, dan kecerdasan. Ketika beranjak dewasa, sejenak beliau meninggalkan istana guna menempuh pendidikan di Batavia. Selain belajar pendidikan hukum Islam kepada Sayed Husein Al Habsyi juga menuntut ilmu hukum dan ketatanegaraan kepada Snouck Hurgronye.

Ajaran dari sang guru, Al Habsyi, menjadikan beliau pemeluk Islam yang taat dan berjiwa kebangsaan yang tinggi. Selama kurang lebih 11 tahun berkelana di Batavia sebagai pusat pergerakan nasional juga telah menanamkan semangat kesatuan sang sultan untuk menentang kolonialisme.

Awal pemerintahan dan perjuangan

Sekembalinya dari Batavia pada 3 Maret 1915, Sultan Syarif Kasim II naik tahta. Kenyataannya, pengangkatan sang sultan oleh Dewan Menteri/ Dewan Kerajaan tidak disenangi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dewan tersebut terdiri dari datuk-datuk empat suku yang meliputi Datuk Tanah Datar Sri Pakermaraja, Datuk Limapuluh Sri Bijuangsa, Datuk Pesisir Sri Dewaraja, dan Datuk Kampar Maharaja Sri Wangsa.

Pemerintah kolonial khawatir karena pewaris kerajaan adalah orang yang berpendidikan dan progresif. Oleh karena itu, Pemerintah Hindia Belanda mulai mengecilkan fungsi Dewan Kerajaan hingga akhirnya dihapuskan.

Setelah datuk empat suku tidak berfungsi lagi, tekanan dari pihak Hindia Belanda semakin meresahkan rakyat. Sultan Syarif Kasim II semakin benci dan menentangnya serta memandang perlu membangun kekuatan fisik. Untuk itu, kekuatan militer dibangun dan bermula dari barisan kehormatan para pemuda. Mereka dilatih untuk membangkitkan semangat perlawanan dan mempertahankan diri serta membela rakyat.

Meskipun pendahulunya terikat perjanjian dengan Hindia Belanda, beliau tegas menolak Kesultanan Siak sebagai bagian dari pemerintah kolonial.

Silakan baca: 

Istana Siak, Bukti Kebesaran Kerajaan Melayu Islam

Integrasi dengan Republik Indonesia

Berita kekalahan Jepang dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dan kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia tersiar ke Kesultanan Siak. Begitu mendengar berita proklamasi, semangat nasionalisme Sultan Syarif Kasim II kian memuncak. Beliau mengibarkan bendera merah putih di Istana Siak.

Pada 1946, beliau berangkat ke Jawa menemui Bung Karno. Dalam pertemuannya dengan sang proklamator itu, beliau menyatakan Kesultanan Siak Sri Indrapura bagian dari wilayah Republik Indonesia.

Selain mendukung perjuangan, beliau juga menyerahkan mahkota kerajaan dan menyumbangkan harta kekayaannya sebesar 13 juta gulden kepada Pemerintah Republik Indonesia. Tentu, ini merupakan nilai yang sangat fantastis saat itu.

Sultan Syarif Kasim II wafat di Pekanbaru pada 23 April 1968. Beliau beroleh gelar pahlawan nasional pada 1998. Namanya juga diabadikan sebagai nama bandara di ibu kota Provinsi Riau tersebut. *

 

Silakan baca: 

Oto Iskandar Di Nata, Tajam Mengecam Penjajahan

 

Sumber: dinsos.riau.go.id