Strategi Pemulihan Pariwisata Indonesia di Masa Pandemi

Sandiaga Uno pariwisata indonesia
Menparekraf Sandiaga Uno saat pertemuan secara virtual bertajuk The 24th Meeting of Asean Tourism Ministers, Kamis (4/2/2021). (dok. kemenparekraf.go.id).*

 

BandungKlik – Menparekraf Sandiaga Uno memaparkan strategi pemulihan pariwisata Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19. Hal ini dia sampaikan dalam forum Menteri Pariwisata dan Sekretaris Jenderal ASEAN, Kamis (4/2/2021).

Dalam pertemuan secara virtual bertajuk The 24th Meeting of Asean Tourism Ministers, Sandiaga memaparkan beberapa program Kemenparekraf. Dikatakannya, dalam strategi pemulihan pariwisata Indonesia pihaknya telah meluncurkan program Indonesia Care.

“Program ini merupakan bentuk komitmen kami untuk mengimplementasikan protokol kesehatan CHSE di destinasi wisata yang ada di Indonesia,” kata Sandiaga, dikutip dari laman kemenparekraf.go.id.

CHSE ini mencakup kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), keselamatan (safety), dan keberlanjutan lingkungan (environment sustainability).

Selain Indonesia Care, kata Sandiaga mengimbuhkan, pihaknya juga mengucurkan dana hibah pariwisata. Yaitu, dana bagi para pelaku wisata dan ekonomi kreatif yang terdampak pandemi Covid-19.

“Program ini kami desain untuk membantu pengelola hotel, restoran, dan destinasi wisata agar dapat tetap bertahan di masa krisis ini,” katanya.

Program selanjutnya, Kemenparekraf berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait seperti organisasi wisata dan Komite Pariwisata ASEAN (ATCM). Kolaborasi ini untuk mempersiapkan industri pariwisata negara-negara Asia Tenggara. Tujuannya, agar menghasilkan produk wisata yang berkualitas, meningkatkan standar pelayanan, dan meningkatkan sumber daya manusia dari para pelakunya.

Pada kesempatan tersebut, Sandiaga juga memaparkan berbagai upaya Indonesia dalam mempersiapkan diri sebagai Pimpinan ASEAN menggantikan Brunei Darussalam pada 2023. Salah satunya dengan menjadi tuan rumah ASEAN Tourism Forum (ATF) 2023 yang akan diselenggarakan di Yogyakarta.

Hal ini disambut baik oleh Menteri Pariwisata Kamboja Thong Khon yang bertindak sebagai pimpinan pada pertemuan itu. Ia mengatakan, perlu ada kolaborasi yang kuat antara negara ASEAN untuk memulihkan sektor pariwisata.

“Perlu ada kolaborasi antara organisasi-organisasi internasional dan pemangku kepentingan terkait untuk mencapai sektor pariwisata ASEAN yang inklusif,” kata Khon. Selain itu, juga mencapai pariwisata yang  berkelanjutan dan kuat demi pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat ASEAN. *

Silakan baca:

Kemenparekraf Targetkan 6.500 Usaha Parekraf Sertifikasi CHSE