BandungKlik – Stasiun Gambir, apa yang terlintas pada nama ini? Ya, bukan sekadar tempat menaikkan dan menurunkan penumpang kereta api, tetapi sebuah kisah perjalanan panjang transportasi di ibu kota, Jakarta.

Kisah dimulai sekira pertengahan abad ke-19. Waktu itu, Gubernur Jenderal Hindia – Belanda J.J. Rochussen mengusulkan kepada pemerintah untuk membangun jalur kereta api, dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor).

Sedikitnya ada tujuan utama usulan tersebut. Pertama aspek ekonomi, dan kedua politik. Dari sisi ekonomi, hadirnya layanan kereta api sebagai angkutan komoditi terutama perkebunan dari pedalaman di Priangan ke pelabuhan di Batavia.

Jika dilihat dari aspek politik, ini berkaitan dengan adanya Gedung Algemeene Secretarie (kini Istana Bogor). Gedung ini dulu difungsikan sebagai tempat kedudukan Gubernur Jenderal Hindia – Belanda sekaligus pusat administrasi pemerintahan.

Utusan militer

Guna menindaklanjuti usulan Rochussen, Pemerintah Kerajaan Belanda mengutus seorang perwira militer berpangkat Letnan 1 Zeni, David Maarschalk. Ia diberi tugas untuk melakukan survei dan menyusun rencana pemasangan jalur kereta api JakartaBogor.

Pemerintah menilai, mengutus personel militer lebih efektif karena jalur yang disurvei terbilang rawan, baik gangguan keamanan maupun tantangan dari pemilik tanah. Maarschalk—dalam laporannya pada 1853—menyarankan pembangunan jalur kereta api dilakukan oleh pemerintah. Namun, pengoperasiannya diserahkan kepada pihak swasta.

Pembangunan jalur JakartaBogor

Satu dekade setelah laporan Maarschalk, akhirnya usulan pembangunan jalur kereta api di Batavia (Jakarta) dapat direalisasikan. Pada 1864, perusahaan kereta api swasta—Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschappij (NISM)—beroleh konsesi pembangunan jalur kereta api tersebut.

NISM melakukan pekerjaan seturut pada Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 1 tanggal 27 Maret 1864 dan Nomor 1 tanggal 19 Juni 1865. Selain itu, perusahaan tersebut juga mengantongi Surat Keputusan Raja Belanda (Koningklijk Besluit) tanggal 22 Juli 1868.

Pembangunan jalur kereta api JakartaBogor resmi dimulai pada Jumat, 15 Oktober 1869, ditandai dengan upacara yang dihadiri Gubernur Jenderal P. Myer.

Proyek pembangunan dipimpin oleh seorang insinyur, J.P. Bordes. Adapun proyek jalur sepanjang 56 kilometer ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Jakarta – Weltevreden, Weltevreden – Meester Cornelis, dan Meester Cornelis – Bogor.

Dalam bagian proyek ini turut dibangun pula jalur simpangan ke Meester Cornelis (Jatinegara) dan simpangan ke Kleine Boom (Pasar Ikan).

Lain halnya dengan jalur Semarang – Vorstenlanden (Solo – Yogyakarta) milik NISM yang menggunakan lebar jalur 1.435 mm, jalur Jakarta – Bogor menggunakan lebar jalur 1.067 mm. Jalur ini tergolong kelas dua dengan bobot batangan rel 25 kilogram per batang, dapat dilalui kereta berkecepatan 20 – 59 km/jam.

Stasiun Weltevreden

Pada 15 September 1871, NISM meresmikan jalur sepanjang 6 kilometer di antara Batavia menuju Weltevreden (kini wilayah Jakarta Pusat). Saat itu, dibuka pula jalur simpang ke Pasar Ikan.

Sebagai tempat perhentian di Weltevreden, NISM membangun Halte Koningsplein, sebuah bangunan kecil dan sederhana. Halte ini berada di tepi timur Koningsplein atau Lapangan Raja (kini kawasan Silang Monas).

Meskipun kecil, Halte Koningsplein berada di lokasi yang sangat straegis, yakni dekat dengan kawasan perbelanjaan Noordwijk (kini daerah Juanda) dan Pasar Baru.

Seiring berjalannya waktu, NISM kembali membangun tempat perhentian baru di Weltevreden, beberapa ratus meter sebelah utara Halte Koningspein. Tempat perhentian tersebut diberi nama Stasiun Weltevreden dan dibuka pada 4 Oktober 1884.

Pada perkembangannya, hadirnya Stasiun Weltevreden perlahan menggantikan peran Halte Koningspein. Stasiun Weltevreden dengan bangunan beratap besi dan ditopang besi cor melayani perjalanan kereta jarak jauh, seperti ke Bandung dan Surabaya.

Klik halaman berikutnya >> Bermula dari Stasiun Batavia Koningsplein