BandungKlik – Sisingaan, salah satu kesenian khas Subang, Jawa Barat, ternyata punya latar belakang sejarah yang kuat. Kesenian ini lahir sebagai bentuk sindiran kepada kolonialisme Inggris masa lalu.

Pertanyaannya, mengapa menggunakan bentuk boneka menyerupai singa? Praktiknya, mengapa mesti diusung sambil diarak? Mengapa pula harus bocah yang duduk di atas sisingaan? Semua itu punya makna perlawanan terhadap kolonialisme pada awal abad ke-19.

Seturut Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jabar yang dikutip indonesia.go.id, konteks tersebut antara tahun 1811 hingga 1816. Ketika itu kongsi Belanda dan Inggris menguasai Jawa Barat termasuk Subang. Belanda adalah penguasa politik, sedangkan Inggris adalah penguasa (sebagian) ekonomi.

Subang dan daerah sekitarnya, saat itu merupakan bagian dari daerah yang dinamakan “Pamanoekan en Tjiasemlanden” atau daerah di antara Pamanukan dan Ciasem. Dalam bahasa Inggris disingkat P & T Lands.

Perihal penguasaan ekonomi yang sebagian diserahkan kepada Inggris tersebut terkait dengan efisiensi anggaran Pemerintah Belanda waktu itu. Salah satunya adalah investasi di bidang industri gula yang punya prospek cerah. Konon, investasi besar-besaran industri gula tersebutlah yang membentuk kota-kota di Jawa dari barat hingga timur.

Daerah P & T Lands yang terletak di utara Gunung Tangkuban Paraha dikenal juga sebagai doble bestuur atau dua kawasan khusus. Selain tempat pengembangan perkebunan, juga industri gula dengan penerapan teknologi mesin mutakhir.

Lambang Singa

Pada awal abad ke-19, menurut Dibyo Harsono dari BPNB Jabar, masyarakat Subang dikenalkan dua lambang penguasa. Pertama, mahkota yang menjadi lambang Belanda. Kedua, tiga singa sebagai lambang kekuasaan Inggris.

Di bawah kekuasaan “Three Lions” inilah masyarakat Subang beroleh tekanan ekonomi yang dahsyat. Inggris melakukan segala macam cara untuk bisa mengerahkan tenaga kerja yang sangat dibutuhkan untuk pembukaan pabrik gula baru. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan dengan cara pemaksaan, tetapi juga pengelabuan.

Apa daya masyarakat Subang pada situasi dan kondisi seperti itu? Tak ada daya yang besar selain melakukan perlawanan semampu mereka. Ketika perlawanan secara fisik jauh dari kemungkinan, masyarakat Subang melakukan perlawanan dengan mengekspresikannya dalam bentuk kebudayaan. Apa wujudnya? Sisingaan!

Tuan Inggris di Subang yang disindir sisingaan. (dok. arsip nasional).*

Sindiran kepada penguasa

Dalam imajinasi masyarakat Subang, kekuasaan industri kolonial Inggris yang dilambangkan dengan singa bisa ditaklukkan oleh seorang bocah. Ya, bocah ini diusung di atas sisingaan, yakni sebagai lambang “yang diusung di atas penderitaan orang”.

Masyarakat Subang berharap, suatu hari generasi muda yang dilambangkan dengan anak kecil penunggang sisingaan tersebut bisa bangkit mengusir kolonialisme. Pada perkembangannya, kesenian sisingaan menjadi salah satu pertujukan yang menghibur. *

Silakan baca: 

Seni Reak, Antara Menghibur dan Kesurupan

Mengenal Kesenian Genjring Bonyok dari Subang