Seruas Kisah Bambu dalam Kerangka Sepeda

sepeda kerangka bambu
Sepeda bambu “Haur” buatan Bandung. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

Sebagai tanaman yang tergolong keluarga rerumputan, bambu telah lama dikreasi menjadi kerangka untuk sepeda.

 

BandungKlik Tak hanya diproduksi saat ini, sepeda berbingkai bahan bambu sebenarnya sudah diperkenalkan sejak akhir abad ke-19. Kisah kolosalnya memang sempat sedih, tetapi kini perlahan kembali bersemi lirih.

Ketika Rover, safety bicycle pertama diluncurkan tahun 1885 dan mulai diproduksi massal, sepeda berbingkai bambu baru muncul sembilan tahun setelahnya. Untuk pertama kali diperkenalkan Bamboo Cycle Company kepada khalayak pada 26 April 1894 di Inggris. Paten dari Amerika Serikat diajukan Oberg dan Andrew Gustafson pada 1895 dan diberikan setahun kemudian.

Saat itu, seperti sepeda berbahan logam keras semisal baja maupun aluminium, industri sepeda bambu pun ikut menggeliat, tumbuh dan berkembang. Penggunaan bambu dalam skala besar untuk material bingkai sepeda juga pernah terjadi selama kurun tertentu.

Namun, dalam hal penjualan dan pemasaran masih kalah pamor meski punya keunggulan dari banyak sisi. Sebut saja salah satunya dari ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan. Bambu dikenal sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui serta menjadi produksi berkelanjutan secara ekologis.

Tak dimungkiri, kekurangmasyhuran di tengah masyarakat telah membuat sepeda bambu minim penggemar. Jumlah penggunanya masih terlampau jauh ketimbang pengguna sepeda berkerangka logam. Kondisi minor tersebut berlangsung hingga puluhan tahun setelah mengalami masa emas di awal kisah. Hal ini hampir berlaku di seluruh belahan dunia.

Importir atau agen sepeda di Indonesia (saat zaman Hindia Belanda) nyaris tak menyelami bisnis sepeda yang satu ini. Tak banyak dijumpai dalam katalog penjualan produk termasuk aksesorinya. Pendek kata, dari ranah pengguna pun kisah sepeda berbingkai bambu seakan tak melaju mulus.

Terus bersemi

Kendati sepeda telah menjadi transportasi utama masyarakat baik di daerah perdesaan dan perkotaan, sepeda bambu saat ini tidak banyak digunakan. Di Bandung misalnya, populasinya masih bisa terhitung jari. Begitu pun di kota lainnya di Indonesia. Di Parijs van Java, sepeda bambu “Haur” buah karya pengrajin Gun Gun Gunawan sempat mengemuka beberapa tahun terakhir.

Meski jumlahnya boleh dibilang terbatas, tetapi kini lambat laun penggemar bamboo bike mulai meluas. Hal itu tak lepas dari bermunculannya “gerakan hijau” di seantero jagat yang peduli terhadap pelestarian lingkungan. Aspek lingkungan inilah yang kemudian menjadi salah satu pertimbangan mendorong kembali produksi sepeda bambu.

Sepeda berbingkai artistik ini seolah mendapat “tempat tersendiri”. Padahal, negara-negara semisal Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Meksiko, Ghana, Filipina hingga Vietnam rutin memproduksi, meniagakan bahkan mengekspornya ke banyak negara. Sebetulnya, Indonesia pun sudah memproduksi sepeda bambu meski melalui beberapa pengrajin lokal dan andal.

Silakan baca: Penny-farthing, Makin Tenar Berkat Analogi Uang Koin Inggris