Seribu Kesan Mengunjungi Lawang Sewu Semarang

lawang sewu semarang
Lawang Sewu di Kota Semarang. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Lawang Sewu, gedung anggun ikonik Semarang yang menyajikan seribu kesan. Awalnya, difungsikan sebagai hoofdkantoor alias kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM).

Pembangunan gedung era kolonial ini dimulai 27 Februari 1904, tepat hari ini 117 tahun lalu. Kantor dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 meter persegi di Wilhelmina Plein yang kini dikenal sebagai bundaran Tugu Muda Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah.

Desain arsitektur NISM dipercayakan kepada dua arsitek asal Belanda yaitu Jakob F Klinkhamer dari Delf dan BJ Oundag dari Amsterdam. Menariknya, desain bangunan dilakukan sepenuhnya di Amsterdam. Setelah rampung, baru gambarnya dibawa ke Semarang.

Bahan baku bangunan banyak dipesan khusus dari Eropa meski sebagian menggunakan bahan lokal. Tahap pertama pembangunan selesai pada 1 Juli 1907. Selain bangunan utama, ruang percetakan dan ruang penjaga rampung bersamaan.

Silakan baca:

Gedung Sate Pembangunannya Habiskan 6 Juta Gulden

Setelah bangunan utama dipergunakan hampir satu dekade, kantor ini dirasa tidak memadai lagi untuk menampung aktivitas yang semakin sibuk. Maka, diputuskan untuk diperluas dengan membangun gedung baru.

Bangunan tambahan ini terletak di sisi timur laut berukuran 23 x 77 meter yang dibangun tahun 1916 – 1918. Berbeda dengan bangunan utama yang berbentuk “L”, bangunan tambahan ini memanjang. Hampir semua bahan baku menggunakan material lokal yang lebih murah. Kendati demikian, bangunan ini menggunakan konstruksi beton bertulang—salah satu teknologi mutakhir saat itu.

Kini, bangunan utama maupun tambahan dikenal dengan nama Lawang Sewu. Penamaan mengacu pada banyaknya pintu, lawang (pintu) dan sewu (seribu).

kaca patri
Kaca patri di bagian dalam gedung Lawang Sewu. (dok. @keretapikita).*

Kompleks Lawang Sewu milik PT Kereta Api Indonesia ini terdiri dari lima gedung utama. Di Indonesia, gedung dengan banyak pintu semacam itu terbilang langka. Selain pintu, bangunan pun memiliki banyak jendela yang tinggi dan lebar. Di dalam gedung dengan dua menara menjulang tersebut terdapat material hiasan kaca patri yang indah dan artistik.  Mahakarya ini dibuat di Prinsenhof di Delf Belanda oleh seniman JL Schouten.

Ribuan pintu

Dari obrolan dengan pemandu, kusen pintu di Lawang Sewu berjumlah sekira 420-an dengan daun pintu mencapai 1.200 buah. Kusen menggunakan dua daun pintu dan sebagian menggunakan empat pintu, yakni dua pintu ayun menggunakan engsel dan dua pintu geser.

pintu lawang sewu
Selasar Lawang Sewu. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Yang tak kalah antik di kompleks itu adalah toilet yang masih terawat keasliannya. Di toilet lawas peninggalan kolonial itu terdapat 4 wastafel kuno segi empat berukuran besar di kiri dan kanan sisi dinding toilet.  Selain wastafel, pengunjung juga akan mendapati urinoir jaman dulu terbuat dari keramik. Ukurannya terbilang besar dan tinggi ketimbang urinoir jaman sekarang.

Saat ini Gedung Lawang Sewu dimanfaatkan sebagai museum dengan koleksi bidang perkeretaapian di Indonesia dari masa ke masa. Walau tak lama berada di sana, namun seribu kisah dan kenangan akan bisa dibawa serta pulang. *

Silakan baca:

Bangunan Stasiun Bandung, Kembarannya Ada di Belanda