Sepenggal Cerita Katedral Santo Petrus Bandung

katedral santo petrus
Katedral Santo Petrus di Jalan Merdeka Kota Bandung memiliki ciri khas atap runcing dengan kemiringan yang tajam. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Gereja Katedral Santo Petrus Bandung menyimpan banyak cerita menarik. Sepenggal ceritanya melekat pada arsitektur bangunannya yang khas. Pembangunan katedral di Merdikaweg (kini Jalan Merdeka) menjadi saksi bisu perkembangan umat Katolik di keuskupan Bandung.

Lalu, bagaimana katedral ini dibangun?

Pada 16 Juni 1895, sebetulnya sudah ada gereja pertama di jalan ini. Gereja tersebut diberi nama St Franciscus Regis yang diberkati oleh Mgr W Staal. Bangunan gereja berukuran 8 x 21 meter ini masih dirasa cukup untuk melayani jemaat saat itu.

Pembangunan gereja dilatarbelakangi oleh karena mulai ramainya Bandung sebagai ibu kota karesidenan Priangan. Namun, hingga penghujung abad ke-19, Bandung belum memiliki pelayanan umat Katolik sendiri. Untuk melayani umat, bahkan harus mendatangkan pastor dari stasi terdekat yaitu Cirebon. Stasi ini berada di bawah Vikariat Apostolik Batavia.

Seturut laman katedralbandung.org, pada 13 Februari 1907, Kota Bandung ditetapkan sebagai stasi baru di Priangan dan dipimpin Pastor J Timmers dari Cirebon yang sudah menetap di Bandung selama empat tahun. Sejak itu, perlahan jumlah jemaat semakin bertambah dan mencapai 280 orang pada Perayaan Ekaristi. Sementara umat Katolik di Bandung saat itu mencapai 1.800 orang.

Silakan baca:

Gereja Merah Dibangun Dengan Sistem Bongkar Pasang

Oleh karena sudah tak mampu menampung jemaat, maka Gereja St Franciscus Regis diperluas. Sebagai lokasi baru, dipilih lahan bekas peternakan di sebelah timur gereja ini.

Arsitek CP Wolff Schoemaker ditunjuk sebagai perancang bangunan gereja yang baru. Pembangunannya dilakukan sepanjang tahun 1921. Katedral dengan gaya arsitektur klasik Gotik ini selesai pada 1922. Kesan klasik terlihat pada bangunan ini karena adanya menara beratap runcing dengan kemiringan yang sangat curam. Sementara itu, interior Katredal Santo Petrus kaya akan ornamen kaca patri yang menggambarkan kisah-kisah dalam Kitab Suci Kristiani.

Gereja yang baru diberkati oleh Mrg Luypen pada 19 Februari 1922 dan dipersembahkan kepada Santo Petrus—nama permandian dari Pastor PJW Muller SJ. Hari itu juga Mrg Luypen meresmikan sekaligus memberkati Pastoran Santo Petrus. Dengan adanya Katredal Santo Petrus ini, maka gereja dan pastoran lama yakni Gereja St Franciscus Regis dialihfungsikan sebagai gedung Perkumpulan Sosial Katolik. *

Silakan baca:

Gereja Zebaoth, Kebaktiannya Pernah Berbahasa Belanda