Seni Ketangkasan Domba Garut, Benar-Benar Adu Domba

domba garut
Seni ketangkasan adu domba garut. (Dok. disparbud.jabarprov.go.id). *

 

BandungKlik – Seni ketangkasan domba garut benar-benar adu domba. Bukan mempertarungkan kita dengan kita tetapi domba dengan domba.

Ya, seni khas asal Kabupaten Garut ini banyak dipentaskan di berbagai daerah khususnya acara-acara besar. Atraksinya menghadirkan sensasi tersendiri. Tentu saja, hal ini merupakan bagian dari seni dan budaya lokal. Di Garut, pertunjukan seni ketangkasan domba unggul tersebar di sejumlah tempat atau lapang. Salah satunya di Ranca Bango.

Konon, kisah domba garut dimulai dari masa pemerintahan Bupati Garut Suryakanta Legawa antara tahun 1815 – 1819. Cerita singkatnya, sebagaimana dikutip dari laman disparbud.jabarprov.go.id, sang bupati acap berkunjung ke tempat kawan seperguruannya bernama Haji Saleh yang punya banyak domba.

Salah satu domba miliknya—si Lenjang, diminta oleh bupati untuk dikawinkan dengan si Dewa, domba yang ada di pendopo. Dari perkawinan si Lenjang dan si Dewa, lahir si Toblo yang kelak beranak-pinak dan menghasilkan domba garut sampai sekarang.

Domba garut punya karakteristik yang khas ketimbang domba-domba lain. Fisik yang kekar dengan berat berkisar 60 – 80 Kg, tanduk baplang (melintang), dan daun telinga lebih kecil adalah beberapa perbedaannya. Namun, domba yang dipentaskan bukan sembarang domba. Hanya domba yang punya syarat dan kualitas baik sebagai petarung yang layak dipentaskan. Karena itu, domba-domba petarung biasanya punya nilai jual yang tinggi. Terlebih, domba juara pentas.

Untuk menghasilkan domba petarung, sang pemilik harus melakukan perawatan ekstra. Menu makanannya pun lebih bervariasi lantaran domba petarung membutuhkan energi dan otot yang kuat. Bahkan, domba harus dirawat dan dijaga kebugarannya dengan berbagai cara, seperti berenang dan dijemur di bawah sinar matahari.

Seni ketangkasan domba garut memang sudah berkembang sejak lama. Biasanya, pertunjukan diiringi dengan berbagai atraksi dan musik kesenian tradisional. Terkadang, si empunya turut mengibing kala dombanya bertarung seraya memberi semangat. Saat bertarung, ada wasit dan aturan mainnya sehingga domba tetap terlindungi. *

Silakan baca:

Bebegig, Topeng Seram dari Alam Ciamis