Sejarah Panjang Pembangunan Jalur Kereta Api di Aceh

sejarah kereta api Aceh
Stasiun dan Balai Yasa Sigli, Aceh pada 1906. (dok. KAI/KITLV)

 

BandungKlik – Sejarah pembangunan jalur kereta api di Aceh menyimpan kisah yang cukup panjang. Berbeda dengan di Jawa, Madura, dan bagian lain di Sumatera, kereta api di Aceh berupa trem dengan lebar sepur lebih sempit yaitu 750 mm.

Namun sayangnya, kini keberadaan trem peninggalan zaman kolonial itu tinggal cerita. Jalurnya sudah raib, banyak bangunan stasiun dan balai yasa kini sudah berubah fungsi bahkan dibongkar.

Keberadaan trem Aceh pada zaman kolonial Belanda terbilang unik karena menjadi satu-satunya yang berorientasi untuk kepentingan perang. Lahan untuk jalur kereta api di Aceh berasal dari bekas teritorial Kesultanan Aceh, berbeda dengan di Jawa yang dibeli tanpa perebutan.

Lahan tersebut berhasil direbut dan dikuasai pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Sebagai hasil dari aneksasi wilayah, lahan-lahan itu disahkan kepemilikannya menjadi aset langsung Angkatan Darat Tentara Kerajaan Hindia Belanda melalui hukum militer.

Akhirnya Kerajaan Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 26 Maret 1873, Belanda mengirimkan gelombang pertama agresi militernya. Istana Mahmud Syah di Kotaraja (Banda Aceh) berhasil diduduki Belanda pada 12 April 1873.

Meski begitu, perlawanan rakyat Aceh bukan berarti berakhir, malah dalam penyerbuan ke Masjid Raya Banda Aceh, Belanda justru bernasib sial. Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang mengomandani ekspedisi pasukan KNIL ke Aceh tewas akibat ditembak sniper Aceh.

Situasi di Banda Aceh pun dapat dikuasai sepenuhnya oleh pengganti Kohler, yaitu Jenderal Jan van Swieten Baru pada 26 April 1874. Walaupun keamanan di luar kota masih sangat rawan.

Silakan baca: Mengenal Sejarah Kereta Api di Museum Sawahlunto

Setelah van Swieten kembali ke Batavia, pimpinan militer di Aceh dipegang Mayor Jenderal Johanes Ludovicious Jacobus Hubertus Pel. Ia menjabat sebagai komandan sekaligus kepala pemerintahan darurat di Aceh.

Pel sendiri agaknya tidak mampu berbuat banyak. Selain dilanda buruknya kesehatan yang menimpa orang-orang Belanda di kota, serangan pasukan Aceh secara silih berganti masih terus terjadi.

Klik halaman berikutnya