Salatiga Menuju Kota Gastronomi Dunia, Ini Penunjangnya

kota gastronomi salatiga
Kota Salatiga. (dinkopukm.salatiga.go.id).*

 

Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah, baru-baru ini diusulkan menjadi nominasi Creative City of Gastronomy ke UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

 

BandungKlik – Apa itu gastronomi? Bila dibandingkan dengan istilah kuliner, kata gastronomi boleh jadi terdengar kurang akrab di telinga. Meskipun secara bahasa keduanya mirip, tetapi ada beberapa aspek yang membedakannya.

Galibnya, gastronomi membahas mengenai kebiasaan makan yang baik atau sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan makanan dan minuman. Namun demikian, gastronomi bukan melulu soal makanan dan minuman yang disajikan di atas meja makan.

Ilmu pengetahuan ini juga mempelajari seluk-beluk cerita di balik makanan atau minuman itu sendiri. Misalnya sejarah, asal bahan pangan, pengolahan, cara memasak hingga bagaimana makanan tersebut dihidangkan dan disantap.

Lantas, bagaimana Salatiga diusulkan menjadi kota gastronomi?

Dikutip dari laman kemenparekraf.go.id, Kota Salatiga dinilai sebagai kota yang ideal dan pantas menyandang kota gastronomi di Indonesia. Pemilihan dan usulan kota ini menjadi kota gastronomi juga bukan tanpa alasan.

Dilihat dari aspek lokasi, Salatiga sangat strategis untuk dikunjungi wisatawan. Kota ini berada di antara tiga kota besar di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, yaitu Kota Semarang, Kota Surakarta dan Kota Yogyakarta.

Alam dan sosio-kultural

Aspek keindahan alam dan lanskap Kota Salatiga juga terbilang cantik. Begitupun dengan sosio-kultural masyarakatnya yang toleran dan menjadi rumah bagi keragaman etnis dan agama.

Tak heran, pada masa Pemerintah Hindia Belanda dijuluki Salatiga Dea Schoonnste Staad van Midden Java atau Salatiga Kota Terindah di Jawa Tengah. Dari aspek histori, perjalanan kota ini begitu panjang karena sudah didirikan sejak tahun 750 atau sudah berusia 1.271 tahun.

Terkait soal hidangan khas, Kota Salatiga punya kuliner unggulan, seperti opor bebek, soto esto, sate sapi suruh, ronde sekoteng, gecok kambing hingga tumpang koyor. Seturut bukti sejarah dalam naskah “Serat Centhini”, resep tumpang koyor telah ada sejak 1814. Tumpang koyor merupakan sup tradisional yang terdiri dari tahu, tempe atau sajian berbasis kedelai dan bumbu khas lainnya. Resep ini diwariskan secara turun-temurun.

Usulan Kota Salatiga menjadi kota gastronomi juga tak lepas dari sejumlah prestasi yang telah diraihnya. Kota ini pernah beroleh predikat sebagai Kota Paling Toleran se-Indonesia, Kota Ramah Anak hingga Kota Ramah HAM.

Dalam upaya pencapaian menuju kota gastronomi dunia, Salatiga mempersiapkan banyak hal, seperti pembangunan pasar tradisional hingga pendidikan kuliner lokal. *

Silakan baca: 

Bandung Masuk Kota Makanan Tradisional Terbaik Dunia

Kota Bandung Masuk 50 Besar Smart City Dunia