BandungKlik – Ratenggaro merupakan kampung yang berlokasi di ujung selatan Sumba. Tepatnya di Desa Maliti Bondo Ate, Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Di sana menyimpan rumah adat Ratenggaro dengan keunikan dibangun tanpa unsur logam dan mempunyai menara tinggi.

Keberadaan rumah adat di Ratenggaro cukup lestari karena masyarakat setempat masih memegang kuat tradisi leluhur. Pemujaan terhadap para leluhur menjadi bagian utama dari kepercayaan mereka, yakni Marapu, yang juga dianut oleh sebagian masyarakat di Pulau Sumba.

Hal tersebut tampak dari bentuk tempat tinggal mereka. Masyarakat di sana tinggal di rumah panggung dengan atap menara menjulang tinggi. Menara itu pun menjadi yang tertinggi di antara rumah adat lain di seluruh Pulau Sumba.

Tinggi menaranya mencapai 15 sampai 30 meter. Selain melambangkan status sosial, menara bak menggapai langit ini merupakan simbol penghormatan terhadap arwah para leluhur. Dengan begitu, rumah tak hanya berfungsi sebagai tempat hunian, melainkan juga sebagai sarana pemujaan.

Bagi warga setempat, mendirikan rumah adat merupakan pekerjaan besar. Pengerjaannya tidak hanya melibatkan semua penduduk kampung, tapi juga restu dari para leluhur. Untuk itu, mereka melakukan ritual adat dipimpin oleh tetua desa.

Tujuannya untuk mendapatkan petunjuk apakah leluhur mengizinkan mereka untuk membangun rumah atau tidak. Apabila disetujui, ada rangkaian upacara lain yang harus dilaksanakan selama proses pembangunan rumah.

Silakan baca: Deretan Rumah Adat Nusantara dengan Arsitektur Ikonik

Seperti pada 2011, rumah utama di Ratenggaro yang disebut Uma Katoda Kataku, rumah sebagai simbolisasi ayah atau dituakan, telah selesai dibangun. Melibatkan 600 warga kampung yang bergotong royong menyumbang dana dan makanan, serta membantu mendirikan empat tiang utama dan menara.

 

 

Klik halaman berikutnya