Rabeg, Legenda Kuliner dari Masa Kasultanan Banten

Rabeg legenda kuliner Banten
Rabeg, legenda kuliner dari masa Kasultanan Banten. (dok. indonesia.go.id)

 

BandungKlik – Rabeg legenda kuliner khas Banten ini, sudah ada sejak masa Kasultanan Banten. Tepatnya di era Sultan Maulana Hasanuddin (putra sulung Sunan Gunung Jati) yang memerintah antara 1552 hingga 1570.

Bersumber dari buku “Jejak Kuliner Arab di Pulau Jawa” karya Gagas Ulung dan Deerona pada 2014 yang dikutip dari laman indonesia.go.id, kemunculan masakan rabig berawal dari perjalanan haji Sultan Maulana Hasanuddin.

Kisahnya dimulai saat Sultan Maulana dan rombongan di tengah pelayaran menuju Arab Saudi, beristirahat dulu di pelabuhan Kota Rabigh yang terletak di tepi Laut Merah, sebuah kota kuno yang sebelumnya bernama Al Juhfah (kini masuk wilayah Jeddah, Arab Saudi). Di sana, Sultan Maulana kerap berkeliling kota menghabiskan waktu.

Di sana, Sultan Maulana sempat mencicipi satu masakan berbahan dasar olahan daging kambing hingga menyukainya. Usai melaksanakan ibadah haji dan pulang ke Banten, ia tak bisa lupa dengan Kota Rabigh, terutama kelezatan kuliner olahan daging kambingnya.

Nah, untuk mengobati rasa rindu akan Rabigh, sultan pun meminta juru masak istana membuatkan masakan seperti yang dicicipi di Rabigh. Meski tidak sama persis, masakan karya juru masaknya tetap disukai Sultan.

Sejak itu kuliner ala Rabigh menjadi hidangan wajib di Keraton Kasultanan Banten. Masakan tersebut pun dinamai rabigh dan mulai menyebar hingga ke seluruh Banten. Masyarakat ikut menyukai masakan favorit sultan mereka.

Hingga kini, kata rabigh berubah menjadi rabeg karena kebiasaan pengucapan masyarakat setempat. Dengan kelezatan dan perjalanan hitorinya, akhirnya rabeg menjadi legenda kuliner Banten.

Cita Rasa Rabeg

Rabeg legenda kuliner Banten ini mempunyai cita rasa yang gurih, mirip dengan masakan tengkleng namun beraroma rempah yang tajam khas Timur Tengah. Bahan dasarnya yaitu daging kambing atau dicampur jeroan kambing.

Hidangan ini diperkaya bumbu campuran rempah, seperti biji pala, lada, kayu manis, jahe, dan lengkuas. Ditambah bumbu utama terdiri dari bawang merah, bawang putih, gula merah/kecap manis, cabai, garam, dan lainnya.

Sekarang, rabeg mudah dijumpai di kedai-kedai makan di Kota Serang dan Cilegon. Tersedia pula pilihan daging sapi bagi yang tak doyan daging kambing karena bau khasnya. Namun tak sedikit juga, masyarakat di Serang mencampurkan kedua jenis daging itu dalam satu porsi.

Pembuatan rabeg diawali dengan mengolah daging kambing atau sapi. Daging tersebut dipotong kecil-kecil dan direbus agar bagian lemak bisa terangkat, serta menjadi lebih empuk. Setelah itu, daging diangkat dan ditiriskan.

Silakan baca: Ini 5 Rekomendasi Tempat Brunch di Kota Bandung

Selanjutnya, daging rebus tadi dimasukkan ke dalam tumisan bumbu rempah yang sudah dihaluskan. Tuangkan sedikit air kaldu rebusannya ke dalam tumisan dan biarkan hingga air rebusan mengental dan menyatu dengan potongan-potongan daging.

Sedikit tips, agar bau prengus khas daging kambing hilang, bisa tambahkan daun salam dan bunga lawang ke dalam masakan untuk menimbulkan sensasi wangi.*