BandungKlik – Masjid Quba di selatan Madinah adalah masjid terbesar kedua dan termegah di kota ini setelah Masjid Nabawi.

Masjid dengan empat menara tersebut menjadi saksi masuknya jemaah dan peziarah sepanjang tahun. Saat Ramadan atau musim haji, jumlah jemaah dan peziarah ke masjid ini meningkat.

Penulis Sapphire Hamwi seperti dikutip Arab News mengatakan dalam bukunya—Lexicon Countries—bahwa Masjid Quba mulanya adalah sebuah sumur. Sumber air ini dikelilingi oleh sebuah desa yang dinamai seturut namanya dan didiami oleh suku Bani Amr bin Auf.

Dalam perjalanannya ke Madinah, Nabi Muhammad ﷺ mengunjungi rumah Bani Amr bin Auf lalu membangun sebuah masjid di daerah yang beliau beri nama Quba.

Seturut catatan sejarah, Masjid Quba dibangun pada tahun pertama kalender Islam (Hijriah) atau 622 Masehi. Tak hanya itu, Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat turut membangun langsung masjid ini.

Di dalam masjid terdapat sumur milik Abu Ayyub Al-Ansari ra. Itu menjadi tempat yang diberkati karena unta Nabi Muhammad ﷺ pertama kali berlutut di sana untuk mengambil air setelah perjalanan panjang.

Adapun keistimewaan masjid ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis. “Barang siapa yang bersuci di rumahnya lalu datang ke Masjid Quba dan salat di sana dua rakaat, maka baginya pahala umrah.” (Ibnu Majah).

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Dinar, Ibnu Umar berkata: “Nabi biasa pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu (kadang-kadang) berjalan dan (kadang-kadang) berkuda.”

Renovasi

Sejak berabad-abad yang lalu, umat Islam telah memberikan banyak perhatian kepada masjid bersejarah ini. Salah satu bentuk perhatian itu dilakukan dengan merenovasi bangunan oleh sejumlah khalifah saat itu.

Khalifah Utsman bin Affan melakukan renovasi pertama. Setelahnya, renovasi dilakukan khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan membangun menara pertama. Masjid ini kembali direnovasi pada 435 Hijriah oleh Abu Yali Al-Husaini yang membangun mihrab.

Pada 555 Hijriah, beberapa penambahan masjid dilakukan oleh Kamar Al-Din Al-Isfahani. Renovasi masjid berturut-turut terjadi pada tahun 671, 733, 840, 881 Hijriah. Perubahan terakhir dilakukan Sultan Abdul Majid pada 1245 Hijriah, yakni pada masa Kesultanan Utsmaniyah.

Di zaman modern, pemerintah Arab Saudi mengambil alih masjid dengan memberikan tanggung jawab kepada Kementerian Urusan Haji. Bangunan Masjid Quba modern adalah prestasi arsitektur yang dilengkapi fasilitas terbaru dengan tetap mempertahankan identitas Islamnya.

Ruangan masjid

Masjid Quba. (islamiclandmark).*

Saat ini, masjid telah diperluas sehingga bisa menampung lebih dari 20 ribu jemaah. Pada 1984, mendiang Raja Fahd bin Abdulaziz meletakkan batu fondasi untuk perluasan bersejarah Masjid Quba. Dua tahun kemudian, ia meresmikan masjid setelah perluasan itu.

Masjid dirancang dan memiliki halaman dalam dengan beberapa pintu masuk. Bagian utara diperuntukkan bagi jemaah wanita.

Dari sekian banyak renovasi yang dilakukan, masjid ini kini memiliki empat menara dan 56 kubah, tujuh pintu masuk utama dan 12 pintu masuk tambahan. Ada 64 toilet untuk pria dan 32 toilet untuk wanita, dan 42 unit untuk berwudu. Untuk mengademkan suhu, ruangan masjid ini didinginkan oleh tiga unit sentral masing-masing berkapasitas satu juta delapan puluh ribu unit termal.

Masjid Quba adalah landmark yang unik dan bangunan putihnya dapat terlihat jelas dan indah meski dari kejauhan. *

Silakan baca:

Fakta-Fakta Masjid Nabawi yang Jarang Diketahui Jemaah

Masjid Al Haram, Sekelumit Sejarah dan Ibadah Haji