Petra Yordania, Kota Batu nan Jelita

petra yordania
Situs heritage dunia Petra di Yordania. (theplanet.com).*

 

BandungKlik – The Lost City atau kota yang hilang, begitulah julukan itu acap disematkan kepada Petra nan jelita. Dibangun sekira 300 tahun sebelum masehi, sempat menjadi pusat perdagangan yang masyhur, lalu terkubur selama berabad-abad. Namun, kota ini sempat hilang bahkan terhapus di dalam peta lalu ditemukan kembali oleh seorang penjelajah asal Swiss pada dekade awal tahun 1800.

Tepatnya di wilayah Amman, Yordania, situs bersejarah yang sejak tahun 2007 dinobatkan sebagai satu dari tujuh keajaiban dunia ini dapat kembali disinggahi. Sudah tak syak lagi, Petra banyak dikunjungi wisatawan yang kagum akan kemegahannya.

Seperti arti namanya yang diserap dari kata Yunani, Petra berarti batu. Ya, kawasan ini terletak di tengah-tengah ngarai di padang gurun yang lembap. Saat memasuki kawasan tersebut, akan terlihat deretan bangunan megah yang dibuat dan dipahat dari batu-batu berukuran raksasa.

Dulu, pernah menjadi ibu kota Kerajaan Nabatean, kerajaan yang rakyatnya berasal dari bangsa Arab bagian barat laut. Akan tetapi, semenjak kota ini kembali ditemukan, masih banyak misteri yang belum terungkap sepenuhnya.

Entah bagaimana masyarakat pada masa itu membangun kota, memahat dinding bangunan dengan tangan hingga menjadi kota apik, berarsitektur unik dan megah. Berada di sana pengunjung akan diajak memasuki lorong sempit yang panjangnya mencapai 1 kilometer.

Berjalan perlahan di antara bongkahan batu-batu besar di sisi kiri dan kanan sampai tiba di lokasi bangunan utama berada, Petra Treasury. Bangunan ini layaknya istana dengan seluruh dindingnya berwarna cokelat kemerah-merahan.

Silakan baca:

Sangiran, Situs Homo Erectus Terbanyak di Dunia

Candi Borobudur, Inspirasi Peradaban Manusia

Ketika Roma menyerang dan menduduki kota itu pada 106 masehi, keruntuhan Petra dimulai sehingga pesona jati dirinya perlahan memudar.

Serangkaian gempa bumi yang melanda dan munculnya jalur-jalur perdagangan baru memaksa Petra kian tak terjamah pada masa Kekaisaran Byzantine, pertengahan abad ke-7 masehi.  Kota pun seperti sengaja dibiarkan kosong dan terbengkalai.

Peradaban Tinggi

Kendati hidup di zaman kuno, masyarakat Petra telah memiliki peradaban dan pengetahuan yang tinggi. Buktinya, hal itu terlihat dari peninggalan sistem pengairan kota yang sudah menggunakan teknologi pompa hidrolik. UNESCO mendeklarasikan Taman Arkeologi Petra sebagai World Heritage Sites pada 1985.

amfiteater petra
Amfiteater Petra.

Tak heran memang, Petra sungguh spektakuler. Terdapat banyak bangunan religius semacam kuil, biara, makam, atau tempat pengorbanan. Semua bangunan tersusun dari batu pasir nan kokoh, dengan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan Arab.

Petra luar biasa indah jelita. Di kawasan ini terdapat pula makam para raja, reruntuhan bangunan teater yang diperkirakan mampu menampung hingga 4 ribu penonton, taman-taman dan fasilitas publik lainnya.

Hingga saat ini, di luar penemuannya yang bikin takjub, pengetahuan tentang Petra dan Nabatea masih tergolong minor. “Baru lima belas persen dari kota yang sudah berhasil kita temukan. Di bawah permukaan masih terdapat 85 persen sisanya, tak tersentuh,” kata Zeidoun Al-Muheisen, seorang arkeolog Jordan’s Yamouk University. *

 

Sumber: whc.unesco.org