BandungKlik – Candi Gedongsongo menjadi salah satu destinasi wisata menarik di Kabupaten Semarang. Lokasinya berada di perbukitan kaki Gunung Ungaran. Tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Bandungan yang berjarak 9 km dari Kota Ambarawa dan 12 Km dari Kota Ungaran.

Nama Gedongsongo ini berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa. Yaitu ‘gedong’ berarti bangunan dan ‘songo’ yang berarti sembilan, sehingga Gedongsongo bermakna sembilan candi. Diperkirakan dibangun pada kurun waktu abad 7 hingga 9 Masehi. Termasuk peninggalan budaya Hindu pada masa Wangsa Sanjaya.

Meski namanya berarti sembilan candi, namun kini hanya tersisa lima kelompok candi yang masih utuh. Letak kelima kelompok candi tersebut berpencar, dimulai dari Candi Gedong I yang terletak paling bawah hingga Candi Gedong V yang terletak paling atas.

Uniknya, semua bangunan candi pada Kompleks Percandian Gedongsongo dibangun di puncak-puncak bukit yang berbeda. Tata letak pada lanskap seperti ini bisa dikaitkan dengan konsep Triloka dalam tradisi Hindu.

Daya Tarik & Harga Tiket Candi Gedongsongo

Berbekal keunikan dan keindahan alam sekitar, Candi Gedongsongo kini menjadi tempat wisata alam populer di Kabupaten Semarang. Berhawa sejuk dan pemandangan alamnya yang indah, membuat nyaman siapa pun yang datang.

Wisatawan juga menikmati berbagai aktivitas di sana. Bisa berendam di pemandian air panas, atau berkuda mengelilingi area. Jika tertarik untuk menginap, bisa memilih camping di area perkemahan yang sudah tersedia. Atau memilih  penginapan dan hotel di sekitar tempat wisata Semarang tersebut.

Silakan baca: 5 Destinasi Wisata Semarang Cocok Buat Relaksasi

Destinasi wisata Candi Gedongsongo buka setiap hari, mulai dari pukul 06.30 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB. Harga tiket masuknya cukup terjangkau, sekitar Rp.10 ribu (weekdays) dan Rp.15 ribu (weekend) bagi wisatawan lokal. Sedangkan bagi wisatawan asing, harga tiketnya sekira Rp.75 ribu.

Sejarah Candi Gedongsongo

Para ahli memperkirakan kawasan Cagar Budaya Gedongsongo dibuat semasa dengan Candi Dieng. Sekitar kurun waktu abad ke 7 sampai 9 Masehi pada masa Dinasti Sanjaya dari Kerajaan Mataram Lama.

Nama Gedongsongo diberikan oleh penduduk setempat yang berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.

Semua candi terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian bawah (alas candi) yang melambangkan alam manusia. Lalu bagian tengah candi menggambarkan alam yang menghubungkan alam manusia dan alam dewa. Serta bagian atas atau puncak candi yang melambangkan alam para dewa.

Keberadaan kompleks candi ini pertama kali diungkapkan oleh Loten pada tahun 1740 M. Kemudian tahun 1840 dilaporkan kepada Thomas Stamford Raffles sebagai Candi Banyukuning. Namun dalam bukunya The History of Java (1817), Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan.

Selanjutnya pada tahun 1825 M, Van Braam membuat publikasi dengan membuat lukisannya yang sekarang disimpan di Museum Leiden. Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedongsongo pada tahun 1865 M.

Silakan baca: Candi Plaosan Klaten Sajikan Pesona Sunset dan Sunrise

Setelah ditemukan, terjadi beberapa penelitian terhadap candi oleh para arkeolog Belanda. Antara lain Van Stein Callenfels (1908 M) dan Knebel (1911 M). Dalam penelitian tersebut ditemukan dua kelompok candi lain, sehingga namanya diubah menjadi Gedongsongo, dalam bahasa Jawa berarti sembilan bangunan.*

 

 

Sumber: cagarbudaya.kemdikbud