Pertempuran Fokkerweg: Kisah I Kokok, You Tommygun

tentara gurkha pertempuran fokkerweg
Tentara Gurkha yang membelot kepada Indonesia. (boombastis.com).*

 

BandungKlik – “Tak ada kawan sejati, tak ada musuh yang abadi.” Ya, aforisme tersebut memang acap mengemuka di panggung politik yang mengagungkan kepentingan. Namun, pernahkah Anda mendengar kisah I Kokok, You Tommygun?

Kisah ini bermula dari kemarahan Inggris oleh karena adanya pengadangan dan pertempuran di Fokkerweg Kota Bandung yang kian tak terbendung. Terlebih, sebagian tentara India (Pakistan/Muslim) pimpinan Kapten Mirza yang menjadi bagian dari Sekutu membelot dan bersimpati kepada pejuang republieken.

Pertempuran di Fokkerweg (kini Jalan Garuda) berlangsung selama 3 hari 3 malam pada 20 – 22 Maret 1946. Lantas, apa yang membuat sebagian dari mereka membelot?

“Selain sama-sama Muslim, rasa simpati itu juga muncul oleh karena sama-sama mengalami imperialisme,” kata Kol (Purn) HRR Wikusumah, Wakil Ketua I Dewan Pimpinan Daerah Legiun Veteran Republik Indonesia Provinsi Jawa Barat, dikutip dari Majalah My Pride Edisi 4 Tahun 2016.

Faktanya, keberpihakan itu memunculkan fenomena unik dan menarik di tengah pasukan. Tentunya selain berbeda bangsa, juga berbeda bahasa. Namun, soal itu bukanlah kendala besar, yang penting tujuan yang diinginkan tercapai.

Seperti komunikasi yang terjadi untuk memperoleh senjata, dilakukan secara diam-diam dengan kata-kata yang hanya dimengerti mereka. Disitat dari Saya Pilih Mengungsi, dialognya antara lain:

I kokok, You Tommygun.”

Ya, I Tommygun.”

Dialog ini maksudnya meminta senjata atau senapan.

Dalam soal makanan, juga sering kali bergulir percakapan yang bersahabat. Ketika pasukan Inggris dari India itu menginginkan ayam, misalnya. Dia berujar, ”One cock, one cheese.” Maksudnya tukar satu ayam dengan satu keju.

Para pejuang republieken yang masih muda juga kerap berkata, “You Muslim, I Muslim. Térétét no!” Maksudnya, “Anda Muslim, saya Muslim. Jangan saling tembak.”

Térétét adalah istilah anak-anak untuk menirukan tembakan senjata. Memang menggelitik perbincangan tersebut terjadi di tengah konflik saat itu. Ada-ada saja yaa … *

Silakan baca:

Mandi Darah di Fokkerweg, 20 – 22 Maret 1946