Peringati Hari Ibu, Festival Konservasi Digelar di Brigif 15 Kujang II Cimahi

Hari Ibu
Festival Konservasi memperingati Hari Ibu di Brigif 15 Kujang II Cimahi.

 

BandungKlik – Peringatan Hari Ibu di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari rangkaian perjuangan kaum perempuan sejak 1928 hingga disepakati di Kongres Perempuan III tahun 1938 di Bandung. Lalu ditetapkan oleh Presiden Sukarno melalui dekrit tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu yang dirayakan secara nasional.

Ragam peringatannya pun diselenggarakan di daerah-daerah dengan berbagai cara yang dilaraskan dengan budaya dan permasalahan kekinian di seluruh nusantara. Namun tetap dengan mengutamakan penghormatan kepada kaum ibu dan juga “Ibu Pertiwi” yang tiada henti mengasihi kehidupan bangsa yang merdeka.

Yang menarik adalah peringatan 62 Tahun Hari Ibu yang diselenggarakan di Balai Prajurit Siliwangi, Brigif 15 Kujang II di kaki Gunung Bohong, Kota Cimahi, Rabu (22/12). Penyelenggaraannya lekat dengan nuansa kasundaan dan dalam balutan rangkaian Festival Konservasi.

Silakan baca: Pangdam III Siliwangi Resmikan Monumen Kujang Papasangan di Puncak Gunung Bohong

Acara tersebut diprakarsai Kawargian ABAH Alam (KAA) dan diakomodasi oleh Brigif 15 Kujang II. Dengan mengusung tema, “Ibu dalam peran implementasi semangat juang, jiwa patriotisme dan nilai-nilai kepahlawanan dalam mempertahankan kelestarian sumber daya alam melalui Festival Konservasi”.

Apresiasi

Istri Komandan Brigif 15, Dr. Amriyah Suci Nurani menyambut baik event istimewa untuk seluruh kaum ibu di Indonesia ini dan menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara.

Acara bertajuk “Silaturahmi & Syukuran Ngaraketkeun Kawargian Dina Raraga Miéling Poé Indung” ini, juga mendapat apesiasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. yang kehadirannya diwakili Direktur Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPLH), Dr. Tuti Herawati, S. Hut., M. Si.

Peringatan Hari Ibu
Atraksi Seni Pencak Silat meriahkan Festival Konservasi.

Menteri LHK mengemukakan mitos Yunani Terra Mater, Dewi Bumi. “Bahwa bumi ini adalah ibu, ibu yang kemudian dikenal kita sebagai ibu pertiwi,” tuturnya. Sedangkan kaum perempuan tidak hanya menjadi figur penting dalam keluarga, tapi juga menjadi figur negara yang menentukan kualitas bangsa di masa depan.

Silakan baca: Dewi Sartika, Merevolusi Tradisi Perempuan Pribumi

Sementara itu dalam sambutannya, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Saurip Kadi yang mewakili KAA menyampaikan kekhawatirannya bahwa sebagian bumi ibu pertiwi ini sudah rusak.

 

Klik halaman berikutnya