BandungKlik – Situs Cagar Budaya Percandian Panataran merupakan sebuah kompleks candi yang terletak di sebelah barat daya lereng Gunung Kelud, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Percandian ini terbilang istimewa sebab dibangun di atas tanah sakral sejak masa Kerajaan Kadiri. Bahkan berlanjut hingga Kerajaan Majapahit.

Di sana, terdapat prasati dari masa Kerajaan Kadari yang disebut Prasasti Palah tahun 1197 Masehi dari Raja Srengga. Prasasti ini masih insitu yang berisi tentang hadiah sima untuk seseorang yang bernama Mpu Iswara Mapanji Jagwata. Karena telah berjasa melakukan puja setiap hari kepada Paduka Bhatara Ri Palah.

Percandian Panataran Blitar ini ditemukan kembali oleh seorang warga negara Belanda. Bernama Dr. Horsfield yang tertulis dalam buku Sir Stamford Raffles berjudul “The History of Java”.

Kompleks percandian tersebut, juga mengundang perhatian Jonathan Rigg pada tahun 1949. Penelitian Rigg dituangkan dalam tulisannya yang berjudul “Tour from Soerabaia”.

Selain itu, pula bermunculan berbagai peneliti untuk mengkaji candi ini, yaitu J. Crawfurd seorang pembantu residen Yogyakarta dan Van Meeteren Brouwer pada tahun 1828. Lalu F.W Junghun pada tahun 1884, dan N.W. Hoepermans yang pada tahun 1884 melakukan inventarisasi candi.

Nama Candi

Beberapa sumber lain menyebutkan nama asli Candi Panataran yaitu Palah atau Rabut Palah. Sumber-sumber tersebut, diantaranya Kakawin Nagarakertagama, Kidung Margasmara pada 1380 Saka atau 1458 Masehi. Serta ditambah naskah Sunda Kuna Bhujangga Manik tahun 1500-an Masehi.

Silakan baca: Kompleks Situs Candi Batujaya, Menyimpan Puluhan Candi

Di dalam Kidung Margasmara juga tercantum tulisan Panataran yang memiliki makna halaman. Kemungkinan untuk menamai seluruh komplek candi yang berfungsi sebagai aktivitas agama, sedangkan Rabut Palah merupakan bangunan sucinya.

Nama Palah juga dapat dilihat dalam Kakawin Nagarakertagama yang menjelaskan bahwa Raja Majapahit Hayam Wuruk keliling ke daerah kekuasaan Majapahit. Termasuk singgah ke Palah.

Pembangunan Candi

Menurut Ph. Soebroto, kompleks Percandian Panataran telah mulai dibangun pada masa Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram. Kala itu Airlangga membangun sebuah bangunan suci untuk memperingati peristiwa penyerangan Haji Wurawari terhadap Raja Dharmawangsa Teguh pada tahun 1006 M.

Penggambaran relief Ramayana dan Krsnayana pada Candi Panataran bertujuan menjadi legitimasi kedudukan Raja Airlangga. Sebagai raja yang memiliki kemampuan dalam menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Proses pembangunan Candi Panataran dilakukan juga pada masa Kerajaan Majapahit. Berupa penambahan bangunan yang dimulai oleh raja kedua Majapahit, yaitu Raja Jayanagara yang memerintah dari tahun 1309 sampai 1328.

Kemudian pembangunan berlanjut pada masa Ratu Tribhuwanottunggadewi, tahun 1328 hingga 1350. Selanjutnya dalam masa Hayam Wuruk dan Suhita agaknya masih terjadi penambahan bangunan di kompleks Candi tersebut.

Silakan baca: Ciung Wanara, Cagar Budaya Peninggalan Kerajaan Galuh

Sehingga dalam rentang tahun 1350 sampai dengan 1477, masih terdapat kegiatan penyempurnaan terhadap percandian Panataran. Keseluruhan proses pembangunan Kompleks Candi Panataran tersebut berlangsung sekira 4 abad.*

 

 

Sumber & Foto: Kemdikbud