Pelat Nama Sepeda, Representasi Identitas Perusahaan

pelat nama sepeda
Pelat nama sepeda tua. (cyclingabout.com).*

 

Pelat nama atau name plates/head badges sepeda adalah sebuah identitas sekaligus brand perusahaan/pabrik.

 

BandungKlik – Coba lihat sepeda Anda! Adakah identitasnya? Pelat nama memang tidak termasuk dalam anatomi utama sepeda. Namun, keberadaannya memiliki peran khusus sebagai representasi dari suatu produk.

Kenyataannya pelat nama yang dilekatkan pada bingkai sepeda berfungsi sebagai identitas. Selain bagi setiap unit sepeda juga punya peran sentral bagi perusahaan atau produsennya. Tak heran, pelat nama menjadi salah satu penanda penting yang mencirikan eksistensi, mencerminkan citra dan merepresentasikan produk perusahaan.

Ada beberapa tempat yang lazim digunakan sebagai titik pemasangan nama atau logo. Area pada head tube (head set) dan spakbor umumnya untuk pelat nama atau logo. Biasanya pada seat tube, down tube, top tube dan porok untuk tulisan nama sepeda yang lazim dilekatkan dengan merek transfer atau stiker.

Head tube menjadi bagian terpenting untuk melekatkan pelat nama dua dimensi. Pada model sepeda klasik (old bicycle), head tube boleh dibilang bagian bingkai yang menjadi “penanda” primer suatu merek. Mengapa? Bagian depan sepeda itu menyatu paten dan menjadi bagian dari kerangka. Lain halnya dengan spakbor dan porok yang terpisah dari frame.

Pelat nama dipasang dengan menggunakan paku keling atau sekrup kecil berbahan kuningan atau aluminium. Ukurannya bisa 2, 2½ atau 3 milimeter. Jumlah sekrup yang terpasang bergantung seberapa banyak lubang yang tersedia pada pelat nama. Rata-rata pelat tersebut dipasang dengan 2 buah sekrup pada titik berbeda, baik sejajar secara horizontal maupun vertikal.

Perusahaan-perusahaan sepeda terdahulu mulai menyertakan pelat nama pada produknya tahun 1900-an. Sebelumnya, sepeda-sepeda yang dirilis menggunakan identitas nama berupa merek transfer.

Dalam perkembangannya, naamplaatjes dibuat dari rupa-rupa material logam. Ada yang berbahan aluminium, kuningan, nikel hingga sepuh perak. Material berukuran panjang sekitar 3,5 hingga 5 centimeter, dan lebar rata-rata 2,5 centimeter mengacu pada ukuran logo proporsional yang diterbitkan perusahaan.

Konten dalam pelat nama

Lantas, apa saja yang menjadi konten dari sebuah pelat nama?

Informasi yang ada pada identitas itu bergantung pada kebijakan perusahaan. Dalam pelat tercantum nama merek, produsen, pabrik atau perusahaan yang memproduksi, nama kota dan atau nama negara. Misalkan logo atau pelat nama sepeda Fongers. Dalam logonya tercetak tulisan “Fongers” sebagai nama atau brand sepeda, nama perusahaan “De Groninger Rijwielen Fabriek NV” serta tulisan Groningen dan Nederland sebagai kota dan negara asal produk.

(dok. rtvnoord.nl).*

Silakan baca: Penny-farthing, Makin Tenar Berkat Analogi Uang Koin Inggris

Dalam hal pelat nama, konten identitas seperti itu tergolong lengkap. Bahkan, tercantum pula tulisan A Fongers—pendiri perusahaan sepeda asal Belanda tersebut. Namun demikian, ada juga perusahaan yang cukup mencantumkan nama sepeda, kota dan negara. Salah satunya sepeda Raleigh. Yang tercantum pada pelat nama yaitu “The Raleigh” (nama sepeda), Nottingham (kota) dan England (negara). Pabrikan yang hanya mencantumkan nama merek  antara lain sepeda Batavus, Magneet, Schwinn dan Mercier.

Desain pelat nama serupa dengan logo resmi yang kemudian menjadi brand atau trade mark perusahaan. Dengan begitu, bentuk logo atau pelat nama setiap sepeda berbeda-beda. Ada yang berbentuk persegi, oval, perisai, bundar, hingga inisial seperti sepeda Batavus dengan logo berbentuk “B” atau sepeda Simplex dengan logo huruf “S”.

Pelat nama memang sudah jarang diterapkan pada sepeda-sepeda yang diproduksi sekarang. Produsen umumnya melekatkan identitas sepeda dengan tulisan nama sepeda yang diproduksinya. Tulisan tersebut biasanya tercantum pada bagian down tube sepeda. *

Silakan baca: Bel Sepeda, Bukan Sekadar Bunyi Kring … Kring …