Nurtanio, Pelopor Industri Penerbangan Indonesia

nurtanio
Nurtanio dan pesawat Si Kumbang. *

 

BandungKlik – Pesawat N219 sudah mengantongi “Type Certificate”. Presiden Joko Widodo memberinya nama “Nurtanio” pada 10 November 2017. Lantas, siapa Nurtanio yang diabadikan pada nama pesawat karya anak bangsa tersebut?

Nama lengkapnya Laksamana Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo. Lelaki  kelahiran Kandangan Kalimantan Selatan pada 3 Desember 1923 adalah salah satu putra terbaik bangsa di dunia kedirgantaraan.

Nurtanio terbilang segelintir orang Indonesia yang bercita-cita mengangkasa. Namun, bukan sekadar sebagai pilot tetapi membuat pesawatnya.

Cita-citanya itu mulai ditempuh ketika merintis pembuatan pesawat terbang tahun 1946 di tanah air. Ia ditempatkan di Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat di lingkungan Angkaran Udara yang berkedudukan di Madiun, kemudian dipindahkan ke Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara). Biro ini merupakan cikal bakal lahirnya industri dirgantara di Indonesia.

Ia berhasil membuat pesawat layang seperti Zogling NWG. Kemudian, pesawat Wiweko Experimental Light Plane (WEL X) pada 1948.

Bersama rekan-rekannya, Nurtanio terus membuat pesawat percobaan di antaranya Si Kumbang. Pesawat pertama karya putra bangsa tersebut didesain sebagai pesawat intai bersenjata. Si Kumbang dapat dioperasikan di lapangan terbang tanah dan landasan rumput sepanjang 350 meter untuk terbang dan 150 untuk mendarat. Pesawat berkode registrasi X-01 itu uji coba perdana pada 1 Agustus 1954.

Empat tahun kemudian, ia juga berhasil membuat pesawat latih Belalang untuk pendidikan penerbangan. Berselang 7 tahun, tepatnya 1965, Nurtanio merintis kerja sama dengan berbagai pihak antara lain pabrik pesawat terbang Polandia—CEKOP. Kerja sama ini meliputi pembangunan pabrik, pelatihan karyawan dan produksi pesawat PZL-104 Wilga.

Meski membidani lahirnya sejumlah pesawat buatan dalam negeri, Nurtanio tetap menerbangkan pesawat termasuk keinginannya terbang nonstop Sabang-Merauke.

Namun, takdir berkata lain. Dalam uji coba penerbangan pesawat Super Aero 45 bermesin ganda keluaran Cekoslowakia, Nurtanio dan Supadio jatuh di Bandung. Kejadian pada 21 Maret 1966 itu akibat satu mesin tiba-tiba mati sehingga pesawat kehilangan tenaga. *

Silakan baca:

Kebanggaan Indonesia, Pesawat N219 Raih Type Certificate