Noken, Tas Sarat Makna dan Mendunia dari Papua

noken papua
Noken. (kemdikbud.go.id).*

 

Papua tak hanya punya bentang alam yang indah, tetapi juga kaya akan keragaman budaya dan kerajinan tradisional, salah satunya noken.

 

BandungKlik – Noken adalah tas tradisional asal Papua. Kegunaannya untuk membawa hasil pertanian dan barang-barang, termasuk barang yang hendak dijual ke pasar. Pada aktivitas lain, tas unik ini kerap digunakan untuk membawa hasil laut, kayu, hewan-hewan kecil, makanan, bahkan bayi.

Namun, bagi masyarakat Papua, noken bukan sekadar tas untuk membawa barang. Ada banyak nilai filosofis yang terkandung dalam tas ini yang telah diwariskan nenek moyang mereka kepada generasi sekarang.

Memang, mulanya benda ini dianggap remeh di mata orang. Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, noken sebenarnya mengajarkan generasi saat ini tentang pentingnya berbagi, demokrasi, dan kebenaran.

Tas tradisional tersebut juga mengandung makna menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Nilai ini terlihat dari cara membuat dan bahan-bahan yang digunakan yang ramah lingkungan.

Silakan baca: Khombow, Lukisan Kulit Kayu Khas Papua

Lantas, bagaimana tas ini dibuat?

Noken berbahan dasar dari alam, seperti serat kayu dan daun atau batang anggrek. Cara membuatnya adalah dengan dianyam atau dirajut. Tentu saja, pengerjaannya dilakukan secara manual alias hand made. Hal ini telah dilakukan secara turun-temurun.

Biasanya kaum perempuan atau mama-mama di Papua yang membuat tas tradisional tersebut. Para mama senantiasa mengajarkan pembuatannya kepada anak-anak perempuan agar bisa membuat noken sendiri.

Di Bumi Cenderawasih kemahiran seorang perempuan merajut noken dianggap sebagai tanda atau lambang kedewasaan. Bahkan, seorang perempuan tidak boleh menikah sebelum bisa membuat noken sendiri.

Di samping proses pembuatannya, penggunaan noken juga terbilang unik karena sering kali menggunakan kepala.

Noken telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda oleh UNESCO. Penetapan dilakukan pada 4 Desember 2012 di Paris, Prancis. Benda ini digolongkan dalam kategori “in Need of Urgent Safeguarding”. Maksudnya, warisan budaya yang membutuhkan perlindungan mendesak. *

Silakan baca: 5 Destinasi Wisata Alam di Papua, Wajib Dikunjungi!