BandungKlik – Khazanah kuliner Indonesia memang cukup kaya dengan beragam kuliner khas dari setiap daerah. Termasuk jenis makanan ringan atau camilan. Nah, salah satu camilan khas yang perlu kalian coba cita rasanya, yaitu Bontot dari Karawang, Jawa Barat.

Camilan khas Karawang yang satu ini merupakan penganan atau makanan yang terbuat dari tepung dan udang atau ikan. Makanan yang berasal dari Kecamatan Rengasdengklok ini, diproduksi secara massal di pabrik pembuatan kerupuk udang. Cara pembuatannya sama seperti pembuatan adonan kerupuk udang pada umumnya.

Singkatnya, bontot merupakan bahan setengah jadi dari kerupuk udang. Tampilannya berupa gulungan adonan membentuk tabung sepanjang dua jengkal dengan diameter sekitar 10 cm. Warnanya terkadang sedikit oranye. Sepintas bagi orang yang belum mengenalnya, mungkin akan mengira makanan ini adalah pepaya.

Cita rasa bontot Karawang ini tidak akan mengecewakan di lidah. Rasanya gurih, sama seperti kerupuk udang. Namun bedanya, tekstur camilan ini sedikit mirip dengan makanan khas Palembang, pempek. Biasanya, masyarakat setempat akan memotong camilan ini melintang seperti potongan kue bolu gulung, lalu menggorengnya.

Silakan baca: Pantai Tanjung Pakis, Alternatif Wisata Alam di Karawang

Makanan ini sering menjadi lauk teman nasi atau hidangan untuk menjamu tamu. Cocok juga buat camilan saat acara kumpul-kumpul, arisan, kumpul di pos ronda, atau nonton bola bersama teman atau keluarga.

Agar lebih enak, untuk menyantap bontot Karawang ini bisa dicocol ke sambal atau saus cabai. Sehingga akan menghasilkan sensasi rasa crunchy kenyal gurih pedas. Pokoknya kalian harus mencobanya saat berkunjung ke Karawang!

Asal-Usul Bontot Karawang                                                                                                         

Asal-usul camilan khas Karawang ini punya cerita unik tersendiri. Namanya diambil dari Bahasa Sunda, kata “bontot” berarti “bungsu”. Pada awalnya makanan ini merupakan sisa potongan adonan kerupuk udang, jadi bukan limbah buangan yang diolah ulang apalagi ampas.

Karena sisa potongan adonan tersebut cukup susah untuk dipotong dan hasilnya akan jelek kalau dipaksakan menjadi bahan kerupuk. Hingga kemudian bagian sisa itu dikonsumsi sendiri oleh produsen dan pekerja pabrik kerupuk udang.

Silakan baca: Kompleks Situs Candi Batujaya, Menyimpan Puluhan Candi

Setelah dicoba, ternyata rasanya cukup enak dan banyak yang suka. Dari situlah sang produsen akhirnya menjual camilan ini dalam satu gulungan.*