Motif Batik Cikadu Pandeglang Usung Kearifan Lokal

batik cikadu
Pengrajin mencanting batik di Sanggar Batik Cikadu, Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. (Irwan Akhmad/ Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Matahari sudah agak condong ketika siang itu kami menyambangi desa wisata Kampung Cikadu di Desa Tanjungjaya Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten. Dari Tanjung Lesung, kampung ini tak terlalu jauh, hanya sekitar 8 kilometer.

Menuju Kampung Cikadu kita akan melintasi jalan desa yang tidak terlalu lebar dengan kontur jalan beragam. Sebagian memang sudah beraspal tetapi sebagian lagi masih berupa makadam dan tanah. Di tempat paling tinggi di desa ini, kita bisa melihat pantai dan biru laut Tanjung Lesung sejauh mata memandang.

Kampung Cikadu adalah daerah hasil relokasi yang dulu berada di Kalicaah dan beberapa tempat lainnya tahun 1995. Relokasi dilakukan Banten West Java, perusahaan tourism development, sebagai pengganti dusun di daerah tersebut.

Suasana kampung yang sejuk dan asri semakin terasa ketika memasuki gerbang dusun. Dua bocah tengah memainkan bola sepak saat kami tiba. Mereka terlihat riang gembira di sudut jalan di seberang rumah berdinding anyaman bambu. Sementara seorang tua memperhatikan kedua bocah itu dari serambi papan kayu. Dia tersenyum ramah, menyapa kami.

Silakan baca:

Batik Banten Hadir dengan Ragam Motif dan Filosofi

Batik Bogor ‘Tradisiku’, Hadirkan Motif Klasik Bogor

batik tulis cikadu
Pengrajin batik tulis Cikadu. (Irwan Akhmad/ Bandung Klik).*

Aroma bakaran lilin cair sudah tercium. Tak jauh dari  bola yang melambung itu, sebuah sanggar tengah sibuk dengan segala kreativitasnya. Namanya Sanggar Batik Cikadu.

Toto Rusmaya, Kepala Sanggar, mengatakan, sanggar batik mulai dibuka pada 21 April 2015. Keberadaan sanggar ini tak lepas dari ditetapkannya Tanjung Lesung sebagai salah satu destinasi “10 Bali Baru” waktu itu. Sebelumnya, kata dia, Pandeglang belum memiliki batik yang khas.

Batik Cikadu menjadi daya tarik di kawasan pariwisata Tanjung Lesung. Kawasan ini secara langsung mengembangkan pemberdayaan potensi masyarakat setempat (ecotourism based on community development).

Berada di sanggar, melihat karya produk yang tumbuh dari nilai kearifan lokal dan alam, sungguh merupakan sebuah pengalaman yang menyenangkan. Sebanyak 65 pengrajin berekspresi dan berkreativitas demi nilai tambah ekonomi serta mendorong sektor pariwisata di sana.

sketsa batik cikadu
Toto Rusmaya memperlihatkan sketsa batik Cikadu. (Irwan Akhmad/ Bandung Klik).*

Ratusan Motif

Sanggar batik ini digairahkan para pengrajin setempat yang sudah terdidik, terlatih dan terampil. “Sanggar ini sebagai tempat pemberdayaan kreativitas masyarakat untuk belajar dan berekspresi dalam membatik. Semua pengrajin berasal dari Kampung Cikadu dan sekitarnya yang masih berada di Desa Tanjungjaya,” tutur Toto sembari memperlihatkan contoh sketsa batik.

Mereka yang berkarya di sanggar datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, mulai dari pelajar hingga ibu rumah tangga.

Ada sekitar 110 motif batik yang dikembangkan di sanggar tersebut dengan mengusung kearifan lokal, terdiri dari 60 motif batik cap dan 50 motif batik tulis. Motif batik mencakup potensi alam, seni dan budaya daerah Pandeglang seperti motif badak, biota laut dan gondang lesung. Motif badak bercula satu dan gondang lesung paling banyak diminati karena kekhasannya.

Sejauh ini batik Cikadu Tanjung Lesung dipasarkan di Pandeglang dan daerah lainnya. Kata Toto, motif batik Cikadu sudah menjadi pakaian batik resmi pemerintah daerah Pandeglang.  Satu helai kain batik tulis yang dibuat selama kurang lebih seminggu dipasarkan mulai 600 ribu rupiah. Sedangkan untuk batik cap mulai 120 ribu rupiah.

Silakan baca:

Batik Paoman Indramayu, Identik dengan Motif Unsur Laut

Mengenal Lebih Dekat 5 Museum Batik di Indonesia

batik cikadu motif badak
Pengrajin mencetak batik Cikadu motif badak. (Irwan Akhmad/ Bandung Klik).*

Kampung Cikadu memiliki banyak potensi pariwisata. Berbagai tradisi juga tumbuh di sana seperti bancakan alias makan bersama, pencak silat hingga degung. Ada juga pengrajin miniatur badak serta pengrajin atap dan anyaman bambu.

Yang tak kalah menarik di kampung ini adalah agro wisata salak birus. Dalam bahasa setempat, kata birus punya arti manis. Salak birus mempunyai ukuran dan bentuk yang terbilang mungil. Dagingnya lebih tipis ketimbang salak pondoh. *