Meriam Ki Amuk, Peninggalan Sejarah Kasultanan Banten

Meriam Ki Amuk
Meriam Ki Amuk terpajang di halaman Museum Banten Lama. (Iwan Gunaesa/BandungKlik)

 

BandungKlik – Berkunjung ke kawasan Banten Lama, jangan lewatkan mampir ke Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama. Di sana terdapat berbagai koleksi peninggalan Kasultanan Banten, termasuk yang menarik perhatian yakni Meriam Ki Amuk.

Menurut keterangan tertulis di lokasi, Meriam Ki Amuk ditemukan di Karangantu, bekas pelabuhan Kasultanan Banten. Dibuat di Jawa Tengah abad 16 sekitar 1527 M sebagai hadiah kepada Kasultanan Banten dari Sultan Trenggana yang awalnya bernama Ki Jimat.

Meriam kuno ini berbahan perunggu dengan bobot mencapai 7 ton, panjang sekitar 341 cm, diameter luar terbesar 70 cm, dan diameter mulut dalam 34 cm. Meriam inipun mempunyai “kembaran” bernama Meriam Si Jagur yang kini berada di halaman Museum Fatahillah Jakarta.

Ki Amuk, oleh peneliti K.C. Crucg dikaitkan dengan meriam Ki Jimat, sebuah meriam yang disebutkan dalam Babad Banten. Diperkirakan tahunnya adalah 1450 Saka (1528-1529). Sedangkan menurut peneliti Valentijn yang dikutip dari laman kemdikbud.go.id, menyebutkan Sultan Demak menghadiahkan satu meriam bernama Ki Jimat kepada Hasanuddin sewaktu menikah dengan putrinya.

Crucq selanjutnya berpendapat bahwa meriam yang di Banten kemungkinan dicor oleh Koja Zainal untuk kepentingan Sultan Demak karena memiliki kemiripan dengan meriam-meriam Portugis. Kemudian meriam diberikan Sultan Demak kepada Hasanuddin dan membawanya ke Banten dimana meriam itu menjadi meriam sultan yang sangat dihormati dengan nama Ki Jimat. Dengan dasar itu  K.C.Crucq menghubungkan antara Ki Jimat sama dengan Ki Amuk dan diperkirakan tahunnya adalah 1450 Saka (1528/9 AD).

Silakan baca:

Keraton Kaibon, Istana Megah Ibunda Sultan Banten

Tasikardi, Bukti Kejayaan Kasultanan Banten

Di luar kontroversi asal-usul, Meriam Ki Amuk menyimpan satu hal yang menarik, yaitu adanya inskripsi berhuruf Arab pada tubuh meriam. Tepatnya berada di bagian atas atau punggung meriam. Terdapat sebanyak tiga inskripsi yang tertulis dalam lingkaran medalion.

Dua inskripsi memiliki tulisan yang sama dan satu inskripsi dengan tulisan berbeda. Inskripsi tersebut dengan tulisan sebagai berikut:

  • Inskripsi pertama dalam medalion berukuran diameter 10 cm, berada dekat dari moncong meriam. Di sini terdapat tulisan berhuruf Arab sebanyak dua baris. Terbaca aqibah al-khairi salamah al-iman yang artinya buah kebaikan adalah keselamatan iman.
  • Inskripsi kedua dalam medalion berukuran diameter 12 cm, terletak di tengah-tengah tubuh meriam bagian atas atau punggung. Di sini juga terdapat tulisan berhuruf Arab yang sama dengan inskripsi pertama.
  • Inskripsi ketiga dalam medalion berukuran diameter 13 cm, berada dekat lubang sumbu meriam atau bagian pangkal meriam. Terdapat empat baris tulisan berhuruf Arab. Terbaca la fata illa Ali la saifa illa zu al-faqar isbir ala ahwaliha la mauta (illa) bi ajalin, yang artinya tidak ada pemuda kecuali Ali, tidak ada pedang kecuali Zulfaqar, sabarlah atas huru-hara (cobaan peperangan), tidak ada kematian kecuali karena ajal.

Secara keseluruhan, meriam ini dihiasi dengan sejumlah ornamen yang terdiri dari inskripsi di atas tadi, ukiran hiasan, dan gelang. Ornamen gelang dapat dilihat dari dua segi, yaitu sebagai bagian dari meriam bersifat fungsional untuk mengangkat meriam saat akan dipindahtempatkan dan sebagai ornamen yang melengkapi hiasan pada tubuh meriam.

Kemudian ornamen ukiran hiasannya dikenal dengan Surya Majapahit yang menghiasi bagian muka moncong meriam. Nama lain hiasan ini dikenal pula dengan nama Sinar Majapahit, Surya Majapahit, Matahari Majapahit, dan Materai Majapahit. Berbentuk seperti medali dengan sudut berjumlah delapan dan garis-garis kecil yang mengelilinginya, sehingga menampakkan seperti matahari sedang bersinar.

Silakan baca:

Vihara Avalokitesvara, Situs Oriental di Banten Lama

Benteng Speelwijk, Jejak Kolonial Belanda di Tanah Banten

Sekadar informasi, pengunjung dapat melihat langsung Meriam Ki Amuk kapan pun meski Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama tutup karena posisinya berada di halaman luar. Lokasi museum sendiri berdekatan dengan Situs Keraton Surosowan dan Masjid Agung Banten.*