Menyusuri Keindahan Gua Batu Cermin di Labuan Bajo

Gua Batu Cermin Labuan Bajo
Tangga akses masuk Gua Batu Cermin. (dok. Kemenparekraf)

 

BandungKlikLabuan Bajo masuk ke dalam 5 Destinasi Super Prioritas (DSP) karena memiliki potensi wisata yang begitu besar, mulai dari alam hingga budaya. Salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi yaitu Gua Batu Cermin.

Daya tariknya berupa fenomena alam yang terjadi di sana. Warga sekitar menyebutnya sebagai Watu Sermeng. Fenomena pemantulan cahaya di dinding batu, lalu merefleksikan cahaya kecil ke areal lain gua, sehingga tampak seperti cermin. Inilah yang menjadi alasan disebut Gua Batu Cermin.

Gua ini juga berbeda dengan gua lain pada umumnya. Gua Batu Cermin mampu meredam bunyi sehingga kedap suara dan tak ada gema serta gaung dari bunyi apapun yang ditimbulkan di dalamnya.

Menurut berbagai sumber, gua tersebut pertama kali mendapat perhatian dunia pada 1951, berkat penelitian arkeolog sekaligus misionaris asal Belanda, Theodore Verhoven. Hasil penelitiannya menyebutkan gua ini merupakan hasil proses alam.

Proses alam pada jutaan tahun lalu, terjadinya gempa akibat pergesaran atau patahnya lempeng bumi. Sehingga beberapa wilayah di Flores ada yang tenggelam dan ada yang naik ke permukaan, salah satunya gua tersebut.

Penelusuran gua

Gua Batu Cermin berlokasi tak begitu jauh dari pusat kota Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, ditempuh sekitar 15 menit saja. Pengunjung dapat menggunakan kendaraan bermotor untuk menuju ke sana. Jalannya pun relatif mulus, beraspal, dan dihiasi deretan bukit hijau serta pepohonan di sepanjang jalan. Namun perlu menentukan waktu yang tepat untuk mengunjungi gua ini, yakni saat cuaca cerah.

Dari loket tiket masuk, pengunjung harus berjalan sekitar 300 meter untuk mencapai gua. Sepanjang perjalanan dapat melihat deretan pohon bambu yang rimbun dan memanjakan mata. Sesekali juga bisa berjumpa dengan kawanan monyet bergelantungan atau sekadar duduk-duduk di pinggir jalan.

Setibanya di lokasi, pengunjung meski menaiki anak tangga beton yang sudah dibangun di mulut gua utama. Terdapat gua pembuka dengan jalur yang relatif luas dan mudah untuk dilalui. Beberapa pohon terlihat merambat dengan akar yang cukup besar menempel pada dinding gua pembuka.

Para pemandu menyarankan kepada pengunjung untuk memakai helm dan menyalakan penerangan dari telepon genggam masing-masing. Hanya beberapa pengunjung diberikan lampu senter, karena jika terlalu banyak penerangan di dalam gua bisa mengubah temperatur udara.

Perlu kewaspadaan saat menelusuri gua, sebab terdapat lorong yang hanya bisa dilalui satu orang. Ada beberapa titik juga yang mengharuskan berjalan merunduk karena posisi stalaktit dan stalagmit cukup rendah. Panjang gua kurang lebih 15-20 meter. Di dalamnya ada ruangan besar yang tidak ada cahaya, sedangkan di bagian yang disebut ‘cermin’ ada cahaya.

Silakan baca: Situs Purbakala Cipari, Bukti Kebudayaan Masa Prasejarah

Di ruang tengah yang bisa diisi sekitar 15 orang itu, dapat dilihat fosil penyu dengan posisi terbalik di langit gua. Segenggam bongkahan fosil pada tempurung tampak hilang karena sengaja diambil Verhoven untuk diteliti.

Kemudian terlihat sederet bongkahan batu berkilauan yang memiliki “pori-pori”. Menurut Verhoven, suara di gua ini tidak bergema lantaran bentuk batu yang berpori-pori dapat meredam suara. Gua ini jelek untuk memantulkan suara, tapi bagus untuk memantulkan cahaya.

Perjalanan wisata khusus menelusuri gua tersebut, bisa menghabiskan waktu selama 20-30 menit. Pengunjung akan serasa mengarungi cerita Pulau Flores masa lalu dan menyaksikan bukti-bukti peninggalan sejarah berharga berbentuk sejumlah fosil hewan dan terumbu karang.*