Menjelajah Lampung Lewat Koleksi Museum

museum lampung
Benda koleksi di Museum Lampung. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

Lampung dengan keberagaman tradisi dan budayanya yang mengagumkan adalah salah satu kekayaan Nusantara yang terbentang di Pulau Sumatera.

 

BandungKlik – Berada di seputar Selat Sunda, kekayaan Lampung sungguh luar biasa termasuk potensi alam dengan adanya satwa-satwa langka dan khas. Jika kita hendak mengenalnya lebih dekat, bolehlah berkunjung ke Museum Negeri Provinsi Lampung di Jalan HZA Pagar Alam 64.

Di Kota Bandar Lampung—ibu kota provinsi, museum tersebut menyimpan dan memamerkan ribuan koleksi. Salah satunya adalah koleksi benda-benda yang mengisyaratkan peradaban tinggi masyarakat Lampung.

Peradaban tinggi masyarakat umumnya ditandai dengan adanya aksara yang dipakai untuk menyampaikan gagasan, nilai, norma, dan aturan yang dianut. Lampung juga punya aksara sendiri yang disebut sukhat atau surat.

Koleksi museum

Menjelajah di Museum Negeri Lampung ini memberi kesan betapa kayanya alam dan budaya Sang Bumi Ruwa Jurai. Kita sebagai pengunjung akan diajak melihat sekira 4.747 buah koleksi terkait bumi Lampung yang tersebar di dua lantai. Koleksi di Ruwa Jurai terbagi dalam geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologika, seni rupa, dan teknologika.

Apa saja yang tersaji di sana?

Di lantai 1 ruang sebelah kiri, kita akan melihat pameran sejarah alam. Ruangan ini menyajikan koleksi biologika yang mencakup fauna langka, seperti harimau sumatera, beruang madu, gajah, macan tutul, trenggiling, dan burung. Koleksi yang dipamerkan berupa fauna asli yang diawetkan dan ditata apik dalam diorama dengan latar habitat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

Bergeser sedikit dari sana tersaji sumber daya batuan dan mineral yang mencakup mineral logam, bahan galian industri, energi, dan konstruksi. Potensi alam ini tak lepas dari keberadaan Gunung Krakatau yang punya sejarah letusan yang menggemparkan dunia pada 1883.

Selanjutnya, di ruang koleksi arkeologika akan dijumpai fosil manusia purba seperti homo erectus dan homo sapiens. Di ruang tersebut juga terdapat koleksi kebudayaan yang menghasilkan peralatan batu hingga kebudayaan zaman perunggu, seperti bejana dan nekara.

Masih di lantai 1, beralih ke ruang sebelah kanan, sejarah klasik Hindu dan Budha tersaji dalam bentuk peninggalan prasasti. Prasasti tertua yang ditemukan adalah prasasti Bungkuk dan prasasti Palas Pasemah yang seturut paliografinya berasal pada abad ke-7 masa Kerajaan Sriwijaya. Berbagai artefak Hindu-Budha juga tersaji sebagai hasil karya bernilai seni tinggi, seperti arca, relief, mangkok zodiak hingga sarana pemujaan.

Silakan baca: Pugung Raharjo, Taman Purbakala di Lampung Timur

Penyebaran Islam

Masuknya Islam ke Lampung sekira abad ke-16 dibuktikan prasasti Boh Dalung dan Dalung Kauripan serta berita Tom Pires. Koleksi yang tersaji berupa koleksi bernuansa Islam, seperti Alquran yang ditulis tangan di atas daluang, kaligrafi hingga keramik beraksara Arab. Naskah-naskah kuno yang ditulis pada media kulit kayu, bambu, tanduk dan daun lontar juga tersaji di ruangan tersebut. Adapun isi naskah beragam mulai dari perihal mantra, ramalan, ilmu pengobatan, perbintangan, perjodohan hingga perdukunan.

Sementara di ruang historika disajikan gambaran perjuangan Radin Inten II sebagai pahlawan nasional asal Lampung.  Radin Inten II melakukan perlawanan terhadap kolonial antara tahun 1834-1856. Di ruang kramologika dipamerkan berbagai keramik lokal dan asing seperti dari Cina, Jepang, Korea, dan Eropa. Ini menjadi bukti Lampung di masa lalu sudah melakukan hubungan dengan daerah luar baik dari aspek perekonomian, sosial maupun budaya.

Yang tak kalah menarik adalah ruang jalur sutra—jalur perdagangan dunia abad ke-4 hingga abad ke-17. Di ruang ini sajian pameran berupa hasil lada dan kopi Lampung dengan peralatan tradisionalnya berupa berunang, jawan, gupek, nihru, dan lampit. Melalui Selat Sunda dan Selat Malaka, Lampung memperkenalkan diri kepada dunia kaya lada dan kopi yang dibutuhkan bangsa Eropa dan Cina.

Daur hidup Adat Pepadun dan Saibatin

Daur hidup masyarakat Lampung yang beradatkan Pepadun dan Saibatin dengan berbagai hasil budaya etnisnya dipamerkan di Lantai II museum. Koleksi upacara daur hidup mulai dari masa kehamilan, kelahiran, anak-anak, remaja, dewasa, perkawinan, pengangkatan gelar hingga kematian disajikan dengan apik. Selain itu, kita pun dapat mengenal peralatan menenun dan membuat tapis, yaitu kain tradisional Lampung. *

Silakan baca: Tari Bedana, Tarian Gembira Sarat Makna