Mengintip Pusat Konservasi Elang di Kamojang

elang kamojang
Seekor elang di kandang display di PKEK Kabupaten Garut. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Ada sensasi tersendiri kala mengintip Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Kecamatan Samarang Kabupaten Garut. Keberadaan pusat konservasi satwa dilindungi tersebut telah menjadi objek wisata baru yang menyuguhkan edukasi tentang elang. Tak jarang, tempat ini disambangi para pelajar dan mahasiswa untuk penelitian.

Kawasan Kamojang merupakan salah satu tempat migrasi burung predator tersebut. Saat ini, ada sekitar 148 ekor yang ditempatkan dalam kandang di kawasan perbukitan berhawa sejuk. Lantas, dari mana burung langka tersebut diperoleh?

Ratusan elang di PKEK diperoleh antara lain dari hasil sitaan dan penyerahan langsung dari masyarakat yang datang ke sana. Seturut hasil pemeriksaan medis, fisik dan karakter, elang akan ditempatkan dalam kandang yang terbagi dalam tiga zona.

Karena sebelumnya ada di tangan warga, maka otomatis cara makan, karakter dan kemampuan terbang elang berubah. Perlahan harus dikembalikan seperti berada di habitatnya. Berada di kandang karantina elang bisa membutuhkan waktu 3 bulan tergantung kondisinya.

konservasi elang
Pusat Konservasi Elang Kamojang yang berhawa sejuk. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Selain kandang karantina dan display, ada juga kandang yang ditempati elang yang siap dilepasliarkan di alam bebas. Namun, pengunjung tidak diperkenankan memasuki zona ini.

Di kandang display, pengunjung akan menjumpai beragam jenis elang seperti elang bondol, elang ular, elang brontok gelap, elang ular natuna hingga elang jawa. Konon, elang jawa adalah yang paling dekat dengan wujud lambang negara Indonesia yaitu Burung Garuda.

Di setiap kandang terdapat informasi terkait identitas elang seperti nama panggilan, jenis, asal satwa, dan tanggal kedatangan ke kawasan PKEK. Keterangan lainnya mengenai fisik hingga status apakah elang tersebut terancam punah dan sebagainya.

Elang adalah pemangsa puncak pada piramida makanan. Bahkan menjadi indikator terakhir terhadap kesehatan, keseimbangan dan kelestarian sebuah ekosistem. Burung ini berperan menyeimbangkan ekosistem dengan mengatur populasi mangsanya seperti tikus, kadal, ular, burung dan sebagainya dalam radius daya jelajahnya. *

Silakan baca:

Mencoba 5 Aktivitas Seru Ekowisata di Sumatera Utara