Mengenal Sejarah Kereta Api di Museum Sawahlunto

Museum sawahlunto
Lokomotif Uap bergigi E1060 atau “Mak Itam”, salah satu koleksi Museum Sawahlunto. (dok. PT KAI)

 

BandungKlik – Museum Sawahlunto menjadi bukti sejarah perjalanan kereta api di tanah Sumatera Barat (Sumbar). Museum ini pun sebagai bentuk pelestarian Stasiun Sawahlunto oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Pemerintah Kota Sawahlunto.

Museum Sawahlunto diresmikan pada 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Salah satu koleksi Museum Sawahlunto yang terkenal, yaitu Lokomotif Uap bergigi E1060 atau lebih dikenal dengan sebutan “Mak Itam”.

Sejarah lahirnya Stasiun Sawahlunto itu sendiri, diawali dari pembangunan jalur kereta api oleh Perusahaan Kereta Api Negara Sumatra Staats Spoorwegen (SSS). Pembangunan itu dimulai dari Teluk Bayu-Padang Panjang-Bukit Tinggi dan Padang Panjang-Sawahlunto. Hingga 1892, jalur kereta sudah mencapai Muara Kalaban.

Alasan utama pembangunan kereta api di Sumbar, yakni sebagai sarana pengangkutan batu bara di Ombilin, Sawahlunto. Sebelumnya, pada tahun 1867 dilakukan penelitian oleh seorang ahli geologi W.H. de Greeve  dan setahun kemudian ditemukan kandungan batu bara di Ombilin.

Silakan baca: Lokomotif Vintage Tahun 1953 – 1991 Hadir Kembali

Demi menjangkau lokasi pertambangan batu bara Sawahlunto, pembangunan jalur kereta api dilanjutkan dari Halte Muara Kalaban berbelok ke arah utara. Melalui sebuah terowongan dan jembatan yang melintasi Sungai Lunto sepanjang 30 meter. Akhirnya, tepat 1 Januari 1894, jalur tersebut dibuka bersamaan peresmian Stasiun Sawahlunto.

Setelah jalur Pelabuhan Teluk Bayur-Sawahlunto selesai, hasil pertambangan batu bara di sana menunjukan hasil yang memuaskan. Namun, akhir tahun 2000 produksi batubara di Sawahlunto semakin berkurang. Secara otomatis aktivitas dan keberadaan kereta api di Sumatera Barat juga terimbas.

Kini, Museum Sawahlunto pun sedang diusulkan sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Keberadaannya juga dapat disewa untuk kegiatan pameran, ruang pertemuan, pemotretan, shooting, pesta pernikahan, festival, bazar, pentas seni, workshop, dan lainnya.*

 

Informasi:

Tiket: Dewasa Rp 3.000 dan anak/pelajar Rp 2.000

Waktu Operasional: Senin-Jumat pukul 08.00-16.00 WIB dan Sabtu-Minggu 08.00-17.00 WIB

Lokasi: Jalan A. Yani, Sawahlunto, Sumatera Barat 27422.

 

Sumber: heritage.kai.id