BandungKlik – Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah terbesar di Indonesia. Provinsi ini juga dikenal akan destinasi pariwisata dan kulinernya.

Timah Bangka sering diekspor ke berbagai negara di dunia. Namun, berkat kreativitas pengrajin, timah juga dapat diolah menjadi kriya yang dinamakan pewter.

Betul, pewter bukanlah kata yang umum diucapkan. Lain halnya jika kita menanyakannya kepada masyarakat di Pulau Bangka, misalnya, pewter bukanlah sesuatu yang asing di telinga mereka.

Lantas, apa itu pewter?

Pewter adalah seni kerajinan logam dari timah, mineral tambang berwarna putih keabuan yang terdapat di perut bumi pulau seluas 11.694 kilometer persegi tersebut. Hasil tambang Bangka, konon, sudah dikenal dunia lebih dari tiga abad yang lalu dan digunakan oleh industri logam di Eropa sejak abad ke-19.

Biasanya masyarakat Bangka mengolah timah menjadi kriya atau cendera mata. Dikutip dari indonesia.go.id, pewter merupakan logam lunak yang terdiri dari timah (Sn) 97%, tembaga, antimonium, dan kadang-kadang perak.

Penggunaan tembaga adalah untuk mengilapkan timah, sedangkan antimonium untuk membuat timah menjadi keras. Hal ini dilakukan karena timah putih tergolong logam lunak yang dapat melebur pada titik didih 223 derajat. Lain halnya dengan antimonium yang baru melebur pada suhu 630 derajat atau tembaga pada suhu 1.083 derajat.

Beragam karya

Dikutip dari wonderful.pangkalpinangkota.go.id, pembuatan pewter terbagi tiga tahap. Pertama, timah dilebur selama kurang lebih satu jam. Kedua, setelah mencair sempurna, timah dituangkan ke dalam cetakan dan dikeringkan. Ketiga, setelah tahap pengeringan, pewter masuk ke dalam tahap penghalusan.

Dari kerajinan pewter, pengrajin dapat membuat barbagai macam produk, baik produk tetap maupun produk pesanan konsumen. Produk tersebut antara lain berupa gantungan kunci berbentuk Pulau Bangka. Ada pula miniatur orang yang sedang mendorong “kerito surong”, yaitu alat angkut barang orang Bangka zaman dulu.

Pewter unik lainnya berbentuk kapal layar, kendaraan tambang, rumah adat Bangka, Jembatan Ampera, vas bunga hingga asbak. Oleh karena itu, harga yang ditawarkan pengrajin pun beragam, mulai dari Rp100.ooo hingga jutaan rupiah. *

Silakan baca:

Museum Timah Indonesia, Pertama di Asia

Mengenal Kopiah Resam, Kerajinan Khas Bangka