Mengenal Kekhasan Masyarakat Suku Tengger Bromo

suku tengger
Salah satu kekhasan masyarakat suku Tengger adalah menggunakan sarung saat beraktivitas. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Dalam kepercayaan dan tradisi masyarakat suku Tengger, Gunung Bromo diyakini sebagai gunung suci. Mereka dikenal taat pada aturan dan agama Hindu serta meyakini sebagai keturunan langsung Majapahit.

Seturut penuturan Hari—pemandu lokal yang menemani perjalanan ke Gunung Bromo di Jawa Timur, nama Tengger diambil dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger.

“Kisah bermula ketika mereka berdua belum juga dikarunia keturunan setelah sekian lama menikah. Maka, untuk meraih keinginannya itu Roro Anteng dan Joko Seger naik ke Gunung Bromo dan bersemedi serta memohon kepada para dewa. Akhirnya, harapan itu terkabul dan mereka dikaruniai 25 anak,” tuturnya.

Akan tetapi, kata dia, apa yang mereka terima bukan tanpa syarat. Anak bungsu mereka harus dikorbankan untuk sang Dewa. Roro Anteng dan Joko Seger tak tega merelakan putra bungsunya. Sang Dewa lantas marah dan mengambil anak itu melalui jilatan api kala Gunung Bromo meletus. “Legenda inilah yang menjadi cikal bakal tradisi labuh sesaji ke kawah Bromo saat upacara Kasada,” kata Hari mengimbuhkan.

Silakan baca:

Menikmati Sunrise dan Keeksotisan Gunung Bromo

Upacara biasanya dilangsungkan di Pura Luhur Poten dan kemudian dilanjutkan ke puncak Gunung Bromo. Upacara digelar pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama, yakni sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Dalam interaksi sehari-hari, antara sesama penduduk lokal masyarakat suku Tengger berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jawa Tengger. Bahasa Indonesia digunakan untuk berkomunikasi dengan pendatang atau pelancong domestik. Keramahannya seakan mencerminkan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat yang tertanam secara adat. Yaitu, hidup berdampingan dan bersahabat dengan alam dan lingkungan.

masyarakat suku tengger
Masyarakat suku Tengger berjualan jagung bakar di bukit Penanjakan Bromo. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

Tinggal di wilayah yang berhawa cukup dingin, mayoritas suku Tengger bekerja sebagai petani dan punya kebiasaan yang unik. Baik pria maupun wanita, biasa mengenakan sarung sebagai pakaian tambahan dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Begitu pun dengan para sopir jip dan penjual jasa kuda wisata di sekitar Bromo. Kain sarung tak lepas dari tubuhnya, bukan sekadar menahan rasa dingin.

Untuk menghangatkan tubuh, tungku dan perapian banyak dijumpai di kedai-kedai atau tempat singgah. Masyarakat suku Tengger terkadang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di dapur ketimbang di ruang tamu rumahnya. *

Silakan baca:

Ke Savana Teletubbies Bromo, Tak Perlu Menunggu Dipsy