Mengenal Karinding, Waditra Karuhun Sunda

karinding
Una, pemain karinding asal Bandung. (dok. Una).*

 

BandungKlik – Nama karinding, bagi kebanyakan orang boleh jadi masih terdengar asing di telinga. Alat musik tradisional ini memang belum setenar angklung ataupun calung yang sering dimainkan dalam berbagai pertunjukan seni Sunda lainnya.

Jika ditilik dari awal penggunaannya, karinding digunakan oleh masyarakat Sunda zaman dulu untuk mengusir hama di sawah. Secara sosio-kultural, masyarakat Sunda dahulu mayoritas bercocok tanam.

Mengapa alat tradisional ini digunakan? Suara atau bunyi karinding menghasilkan gelombang suara yang efektif untuk mengusir hama di sawah, ladang atau huma.

Bukan cuma di lahan pertanian, di Banten, karinding kerap digunakan remaja sebagai alat komunikasi untuk mencari pujaan hatinya. Biasanya alat tersebut dibunyikan di serambi rumah ketika sore saat bersantai selepas berkerja. Para gadis yang mendengar galibnya mendekati si penabuh alat itu karena mereka mengetahui di tempat tersebut banyak pemuda.

Dulu, alat musik ini juga digunakan sebagai sarana hiburan para penggembala kerbau di kampung-kampung.

Dikutip dari “Ensiklopedia Sunda”, alat bunyi-bunyian dalam karawitan Sunda ini terbuat dari pelepah enau atau bambu. Cara memainkannya terbilang sederhana, yaitu dengan menggunakan pukulan jari tangan di rongga mulut sebagai resonator.

Alat bunyi-bunyian ini panjangnya 20 centimer dan lebar satu centimeter. Ada tiga bagian, yaitu bagian “jarum” tempat keluarnya bunyi. Bagian lainnya adalah pegangan, dan bagian ujung yang disebut pemukul (panenggeul).

Apabila bagian panenggeul dipukul, maka bagian jarum akan begetar. Ketika dirapatkan ke rongga mulut, maka akan menghasilkan bunyi yang khas.

Karinding. (disbudpar.bandung.go.id).*

Dilihat dari bentuknya yang mungil dan sederhana, alat bunyi-bunyian ini tergolong dalam jenis lamelafon atau idiofon. Seperti alat musik kebanyakan, karinding juga dimainkan dalam dua jenis nada, yaitu irama (ritme) dan melodi.

Dalam perkembangannya, waditra karuhun Sunda ini kerap dimainkan dan dikolaborasikan dengan instrumen modern. Tentu, tak hanya memainkan tembang Sunda, tetapi juga lagu-lagu pop Indonesia maupun Barat. *

Silakan baca: 

Calung, Alat Musik Tradisional Sunda Berbahan Bambu

Senada Cerita Angklung, dari Gubrag hingga Rekor