BandungKlik – Buat kalian yang sedang berlibur atau berkunjung ke Kabupaten Pasuruan, bisa sekalian mampir ke situs Candi Gunung Gangsir. Lokasinya berada di Dukuh Kebon Candi, Desa Gunung Gangsir, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Bersumber dari laman kemdikbud.go.id, candi yang satu ini berbentuk tambun dan berundak-undak dengan puncak berbentuk kubus. Penamaannya sesuai nama desa candi ini berada.

Data kesejarahan Candi Gunung Gangsir dimulai Residen Pasuruan kala itu, H.I Domis, yang telah mengunjungi candi pada tahun 1830. Kemudian pada 1840, H.N Sieburgh seorang juru gambar, yang berkunjung dan membuat lukisan mengenai kondisi reruntuhan candi.

Ada lagi Ketua Commissie voor Oudheidkundige Onderzoek op Java en Madoera J.L.A. Brandes, yang mengunjungi runtuhan candi pada 1903 atas dasar kekaguman. Serta pandangannya yang menyebutkan bahwa candi ini merupakan ‘missing link’ antara gaya seni bangunan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur.

Dari situ, para peneliti lainnya berdatangan, antara lain H.Parmentier (1907), N.J Krom (1923), Maclaine Pont (1930), J.Dumarcay (1986) dan Marijke J.Klokke (1983, 2001).

Arsitektur Candi Gunung Gangsir

Bangunan candi di Pasuruan ini menggunakan material bata merah dengan denah segi empat berukuran 14 meter tiap sisinya. Tampak bagian depan candi dengan tangga naik sebagai akses masuk ke relung badan candi menghadap ke arah timur.

Silakan baca: Liburan ke Coban Danyang Pasuruan yang Menawan

Badan candi tersebut berdiri pada kaki candi segi empat berukuran sekitar 15 x 15 m2 yang disangga dua umpak. Tinggi keseluruhannya tersisa 12,5 meter. Terdiri dari 4 lantai, 2 lantai dasar merupakan tubuh dan atap candi yang sebenarnya.

Lanjut ke bagian dalam tubuh candi, terdapat ruangan yang konon cukup luas, hingga dapat menampung 50 orang. Pintu masuk ke ruangan ini berada di sebelah barat, sekitar 5 m dari tanah. Akses ke pintu melalui tangga yang cukup lebar dan menjorok jauh ke barat. Namun sayang sekali, tangga tersebut telah hancur, jadi sulit untuk pengunjung lalui.

Atap candi yang terlihat sekarang berbentuk melengkung dengan ujung tumpul seperti puncak gunung. Bagian puncaknya sudah hancur, tetapi masih terlihat lapik penyangga puncak atap. Dari belakang, bangunan candi seperti bukit kecil yang terbuat dari batu bata. Tidak terdapat relung-relung tempat meletakkan arca.

Daya tarik lainnya, ada beberapa titik relung, pelipit, dan antefiks. Lalu panil-panil Candi Gunung Gangsir yang menampilkan keagungan karya menawan. Dengan relief tokoh, bejana-bejana motif sulur-suluran dan bunga, pilaster, pepohonan dan binatang.

Beberapa hiasan pun masih menempel pada dinding Candi Gunung Gangsir. Di kiri dan kanan puncak tangga ada hiasan berupa pahatan gambar wadah berhiaskan sulur-suluran dan gambar seorang wanita. Hebatnya lagi, hiasan dari batu bata tersebut sangat halus, nyaris terlihat sebagai hasil cetakan, bukan pahatan.

Silakan baca: Menengok Candi Pari Sidoarjo, Peninggalan Majapahit

Sebagai langkah pelestarian Candi Gunung Gangsir, dilaksanakan kegiatan pemugaran. Berlangsung sejak tahun 2004 hingga 2013 selama 9 tahap. Situs dengan luas area 2.500 meter persegi ini juga telah ditetapkan sebagai warisan cagar budaya tingkat provinsi pada 29 Februari 2016.*