Mengenal Benteng Pandjoenan dan Simbol Dua Kunci

benteng pandjoenan
Simbol kunci di mulut lorong Benteng Pandjoenan di Tahura Gunung Kunci Kabupaten Sumedang. (Helmy). *

 

BandungKlik – Bukan kunci biasa. Ini adalah simbol dua kunci menyilang yang tercetak pada dinding benteng sarat sejarah. Namanya, Benteng Pandjoenan.

Benteng peninggalan Belanda tersebut berada di objek wisata Tahura Gunung Kunci di jalan lintas BandungCirebon. Tahura ini juga mencakup Gunung Palasari yang berada di sebelahnya, dipisahkan oleh jalan raya.

Jika diperhatikan, posisi benteng ini menghadap ke arah Alun-alun Sumedang. Tak jauh, memang. Jaraknya kurang lebih satu kilometer, masih dalam jangkauan jarak tembak meriam. Konon, Belanda membangun benteng pertahanan tersebut untuk keperluan perang.

Benteng Pandjoenan dibangun tahun 1914-1917 pada masa pemerintahan Bupati Pangeran Aria Soeriaatmadja (1883-1919). Meski dinamai Pandjoenan, masyarakat setempat mengenalnya sebagai Benteng Gunung Kunci. Mungkin merujuk pada simbol kunci dan tulisan G. Koentji di mulut lorong.

Luas Benteng Pandjoenan mencapai 2.600 meter persegi dan terdiri dari tiga lantai. Dulu, lantai 1 difungsikan sebagai ruangan prajurit, lantai 2 ruangan perwira dan lantai 3 sebagai benteng pertahanan. Di dalam benteng yang gelap terdapat lorong sepanjang 200 meter yang menghubungkan antarruangan. Selain bunker seluas 450 meter persegi, di dalamnya terdapat 17 gua buatan.

Tentang pembangunan Gunung Kunci, ada versi yang menyebutkan tempat tersebut sebenarnya bukanlah gunung. Seperti dikatakan Ajat—penjaga situs di lokasi, benteng pertahanan itu disamarkan menjadi sebuah bukit.

“Tanah yang digunakan untuk mengurug bagian atas benteng sebagian diambil dari lembur Pandjoenan Sumedang,” kata Ajat, tempo hari. Di atas tanah tersebut ditanam pohon pinus dan tumbuhan lainnya sehingga orang mengira benteng tersebut adalah bukit.

Terlepas dari versi tersebut, Benteng Pandjoenan Gunung Kunci adalah bangunan cagar budaya dan tahura yang harus dijaga. Terlebih, kawasan ini demikian asri dan punya nilai histori sekaligus. *

Lokasi

Kelurahan Kota Kulon

Kecamatan Sumedang Selatan

Kabupaten Sumedang

Tiket

Rp 7.000

Jam operasional

Pukul 08.00 – 16.30 WIB

Silakan baca:

Monumen Laddy Raffles, Tanda Cinta Sang Gubernur Inggris