Mengayuh Sepeda Mengenang Sejarah Ala PSB Bandung

Sepeda
Segenap anggota Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng mengayuh sepeda tua berkeliling Kota Bandung. (Irwan Akhmad/Bandung Klik). *

 

BandungKlik – Berbagai sepeda dengan spesifikasi khusus hingga berteknologi mutakhir terus bermunculan. Akan tetapi, perkembangan ini tidak mempengaruhi para penggemar sepeda tua yang terhimpun dalam Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng (PSBB) beralih kayuhan. Kecintaan akan nilai histori adalah salah satu alasan mereka mempertahankan sepeda miliknya.

Sebermula, sekira tahun 2004, beberapa orang di antara mereka acap bersua di pasar-pasar loak. “Dulu kami banyak bertemu di pasar loak seperti di Jalan Astana Anyar, Malabar, seputaran Pusdai, Cihapit dan Jatayu. Setelah mencapai 35 orang, kami sepakat membentuk wadah silaturahmi pada 31 Januari 2005 dengan nama Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng,” tutur Yahya Johari, salah seorang pendiri Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng, belum lama ini.

Kata Aboy—sapaan akrabnya, selain sepeda tua, mereka juga menggemari barang-barang antik. Jadinya, perbincangan tak melulu seputar sapédah baheula.

Cuplikan-cuplikan cerita di antara mereka terkuak pada sepeda apa yang didapat, dari siapa, kapan, di mana, tahun berapa hingga bagaimana sepeda itu masih ada di tangannya masing-masing. Malah dikisahkan, ada sepeda sudah masuk dalam gudang barang-barang rongsok dan siap “dimutilasi” tetapi masih bisa terselamatkan.

“Maklum, pada tahun 1980-an, khususnya di Bandung sepeda-sepeda itu seperti mati suri atau malah benar-benar mati. Padahal, sebelum tahun 1970-an sepeda tua jadi primadona,” kata Aboy.

Saat itu, pria yang mengoleksi Raleigh Tourist 1936 mengatakan, para perintis yang sebagian mengalami masa ini menjadi saksi betapa pengguna sepeda menurun drastis. Pengendara sepeda tua yang hilir mudik di jalanan kota bisa dihitung jari.

Sebaliknya, sepeda dalam kondisi tak menentu justru lebih banyak jumlahnya. Tak sedikit sepeda lawas yang diselimuti debu tebal di gudang, digantung dalam kondisi yang memprihatinkan dan menjadi sarang laba-laba, terpenjara di atas ruang di antara langit-langit dan genting hingga teronggok berlumur karat diterpa angin, air dan cuaca.

Nilai Sejarah

Sepeda seakan tak lagi berharga. Akan tetapi, nilai sejarah yang melekat pada sepeda tua tak bisa dibandingkan dengan sepeda jenis terbaru.

Sepeda mereka ada yang diperoleh dari warisan orang tua, kakek dan nenek, berburu dari gudang toko sepeda zaman dulu atau sepeda yang sengaja dicari hingga pelosok-pelosok. Awal tahun 2000-an, lambat laun sepeda-sepeda tua itu “hidup” lagi dan bersemi kembali.

Seperti halnya yang dilakukan Paguyuban Sapedah Baheula Bandoeng, mengayuh sepeda sekaligus mengenang sejarah. *

Silakan baca:

Menilik Peristiwa Sejarah di Bawah Monpera Jabar