Menelusuri Situs Gunung Padang nan Penuh Misteri

situs gunung padang
Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. (Opik Surya).*

 

Gunung Padang merupakan situs berbentuk punden berundak yang diyakini sebagai tempat upacara ritual masyarakat masa lampau.

 

BandungKlik – Keberadaan Situs Gunung Padang pertama kali dilaporkan oleh Nicolaas Johannes Krom dalam Rapporten Oudheidkundige Dienst pada 1914. Situs ini kembali mengemuka di ranah penelitian arkeologi pada 1970-an setelah warga menemukan kembali teras berundak yang dipenuhi batu andesit.

Situs Gunung Padang terletak di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat. Sama sekali tak ada hubungannya dengan Kota Padang di Sumatera Barat. Padang di sini merupakan tanah atau tempat yang luas.

Peneliti utama dari Badan Arkeologi Bandung Lutfi Yondri mengatakan, Gunung Padang adalah tempat upacara pada masa silam. “Situs ini untuk upacara ritual di masa lalu. Kalau ditarik garis lurus, Situs Gunung Padang menghadap ke Gunung Gede,” ujarnya, tempo hari.

Hal ini, kata dia, tak bisa dilepaskan dengan status Gunung Gede yang masih disakralkan sampai saat ini. Alasan lainnya bahwa di sekitar lokasi Situs Gunung Padang sedikit sekali ditemukan tembikar. Kemungkinan besar situs ini bukan permukiman.

Jika kita berkunjung ke Situs Gunung Padang, kita akan menemukan sumur sebelum teras berundak. Sumur tersebut diperkirakan digunakan oleh masyarakat prasejarah untuk membersihkan diri sebelum naik ke tempat ritual yang punya lima teras. Sumber air ini diberi nama Sumur Kahuripan.

Silakan baca: Situs Purbakala Cipari, Bukti Kebudayaan Masa Prasejarah

Batu kolom

Terletak di atas bukit pada ketinggian 885 mdpl, kompleks utama situs terhampar mencapai 900 meter persegi. Ini adalah lokasi tinggalan megalitikum yang tersusun dari batuan kekar kolom berupa balok menjadi teras berundak. Semuanya ada lima teras.

Dari pintu masuk situs ini, ada dua jalan untuk mencapai ke puncak teras tersebut. Arah kanan relatif landai, tetapi lumayan jauh sekira 300 meter. Jika ambil arah kiri Anda akan melalui anak tangga relatif terjal, tetapi jalurnya lebih pendek, yaitu 175 meter.

Dari sekian banyak batu punden, sebagian batu berdiri  miring, aus, terkelupas, retak, patah, bahkan jatuh ke kaki bukit. Proses alami ini sebagian membentuk goresan pada batu, di antaranya ada yang menyerupai kujang dan telapak kaki.

Menelusuri Situs Gunung Padang memang menarik. Kita dapat melihat langsung betapa besarnya kehebatan dan peradaban nenek moyang dalam hal membangun tempat pemujaan atau ritual. Bisa dibayangkan, kolom-kolom batu yang demikian berat dapat tersusun di atas bukit.

Masyarakat di Gunung Padang pada masa lampau mencari batu, menyusun kemudian menggunakannya. Singkat kata, balok batu di sana hasil bentukan alami karena tidak ditemukan hasil pahatan manusia. Yang masih misteri, apakah batu tersebut berasal dari bukit setempat atau gunung lain. *

Silakan baca:

Menelusuri Situs Megalitik Tutari di Bumi Cenderawasih

Situs Megalitik Hiligoe, Peninggalan Bangsawan Nias