Letkol Lembong, Gerilyawan di Filipina dan Indonesia

letkol lembong
Patung Letkol Lembong di halaman Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi yang kini menjadi Museum Mandala Wangsit Siliwangi. (Irwan Akhmad/Bandung Klik).*

 

BandungKlik – Letkol Lembong dikenal sebagai perwira militer. Ia terlibat dalam perang gerilya saat Perang Dunia II di Filipina dan perang kemerdekaan Indonesia. Ia gugur sebagai korban kekejaman Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung.

Adolf Gustaaf Lembong, demikian nama lengkapnya. Karir militer perwira kelahiran Minahasa Selatan Sulawesi Utara 19 Oktober 1910 ini dimulai saat bergabung dengan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger). Saat itu—awal Perang Dunia II, Lembong ditugaskan sebagai operator radio di Manado. Tahun 1943, ia ditangkap oleh tentara Jepang dan dikirim ke Luzon, Filipina.

Selama di kamp tawanan Jepang di Luzon, Lembong menjalin komunikasi dengan gerilyawan Filipina. Namun, ia berhasil meloloskan diri. Lalu, bergabung dengan unit gerilya dalam pasukan United States Armed Forces in the Far East (USAFFE) – Luzon Guerilla Armed Forces (LGAF). Dengan pangkat Letnan Dua, ia sempat diangkat menjadi komandan Skuadron 270. Kesatuan ini beranggotakan gerilyawan Filipina dan Minahasa.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Lembong kembali ke Indonesia pada Januari 1946 dan diberi pangkat Letnan Satu oleh KNIL. Waktu itu, Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan.

Lembong akhirnya memihak Indonesia ketika Belanda melancarkan agresi militer pada 21 Juli 1947. Di Yogyakarta, ia berbagung dengan Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) yang kelak diintegrasikan dengan Tentara Republik Indonesia (TRI). Ketika TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), Lembong diangkat menjadi Komandan Brigade XVI di Yogyakarta. Pangkatnya Letnan Kolonel.

Silakan baca:

Nurtanio, Pelopor Industri Penerbangan Indonesia

Lembong dicopot dari jabatannya setelah penculikan dirinya oleh anak buahnya sendiri atas suruhan Kahar Muzakkar. Dengan begitu, ia tak lagi punya pasukan tetapi ingin tetap bergerilya. Terlebih, Belanda kembali melancarkan agresi militer keduanya pada 19 Desember 1948.

Tentara Belanda berhasil menangkap Lembong di Yogyakarta dan dipenjarakan di Ambarawa. Ia baru dibebaskan setelah Perjanjian Roem-Royen.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, Letkol Lembong kembali beroleh tugas. Kali ini membentuk pusat pendidikan militer di Bandung. Pada 23 Januari 1950, bersama ajudannya yakni Kapten Leo Kailalo, ia hendak menemui Panglima Divisi Siliwangi di Bandung.

Malang, takdir berkata lain. Saat bersamaan, Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi di Oude Hospitaalweg dikuasai pasukan bekas KNIL yang terhimpun dalam APRA. Lembong dan Kailalo dibunuh secara sadis oleh gerombolan gelap pimpinan Raymond Westerling tersebut.

Gedung Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi—tempat Lembong gugur, kini difungsikan sebagai Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Nama Oude Hospitaalweg kemudian diganti menjadi Jalan Lembong. (berbagai sumber). *