Kuda Renggong Menari di Atas Kaki Sendiri

Kuda Renggong
Dani Kucir saat pertunjukan kuda renggong di Pasir Impun, Kota Bandung. (Irwan Akhmad/Bandung Klik). *

 

BandungKlik – Kuda renggong akan segera beraksi, menari di atas kaki sendiri. Kuda gagah itu semula hanya berdiri diam. Ekspresi wajahnya datar tetapi nalurinya seperti sudah bisa menebak.

Kakinya mulai bergerak-gerak, seakan tak sabar untuk pentas. Lalu sesekali menoleh, menatap kerumunan yang tak jauh berada di sekitarnya. Ia nampak gagah dengan sejumlah atribut yang tengah dipakainya layaknya seorang penghibur seni.

Betul, memang ia sedang berperan sebagai penari. Atribut kain dan bahan kulit nuansa emas dan merah yang dipakai adalah penghias penampilannya.

Kuda penari berwarna cokelat itu mulai memainkan keempat kakinya dengan riang. Tepat di depannya adalah Dani Kucir—sang empunya sekaligus pelatihnya, menyapanya dan memberi aba-aba untuk memulai aksi. Kuda berderap pendek, menari dan berjingkrak, mengikuti ketukan cepat irama musik yang dimainkan sekitar 30 orang.

Mereka juga memainkan musik sembari menari, sementara Dani Kucir beraksi dengan kudanya. Hingga suatu momen, kuda itu berlutut lalu berbaring tanda menyerah. Para penampil menuai decak kagum dan aplaus penonton.

Kesenian kuda renggong itu dimainkan Dani Kucir saparakanca di bawah payung grup Rajavega Reyhan Kampung Cibentar Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung. Sejak tahun 1997, pria ini menggeluti kesenian yang berasal dari Buahdua Conggéang Kabupaten Sumedang.

Selama berkiprah di dunia seni pertunjukan ini, ia telah tampil di berbagai kota semisal pada acara pesta khitanan, menerima tamu agung ataupun acara bertajuk festival.

Makna Simbolis

Makna simbolis dari pertunjukan kuda rénggong, kata dia adalah makna interaksi antara makhluk dengan Sang Khalik. Bukan sekadar binatang peliharaan, kuda diposisikan sebagai makhluk Tuhan yang dimanjakan. Bahkan, Dani sedikitnya perlu waktu sekitar dua tahun melatih kudanya hingga menjadi kuda penari (ronggéng) yang terampil.

Kendati demikian, apa yang ia perjuangkan di ranah kesenian tradisional dilakukannya secara mandiri.

“Selama ini kami berusaha agar kesenian kuda rénggong terutama di Bandung dan Jawa Barat dapat terus memasyarakat. Namun, sejauh ini kami merasa berjuang sendiri tanpa adanya keterlibatan pemerintah. Padahal, ngamumulé kesenian tradisional seperti ini adalah tanggung jawab bersama,” ucap Dani saat dijumpai usai berpentas di Pasir Impun Kabupaten Bandung, tempo hari. *

Silakan baca:

Bersantai di Tengah Debur Curug Pelangi