Kompleks Situs Candi Batujaya, Menyimpan Puluhan Candi

Situs Batujaya Candi Jiwa
Candi Jiwa, candi terpopuler di Kompleks Situs Batujaya Karawang. (Iwan Gunaesa/BandungKlik)

 

BandungKlik – Kompleks Situs Candi Batujaya yang berlokasi di Desa Segaran, Batujaya dan Desa Talagajaya, Pakisjaya, Karawang, Jawa Barat ini, menyimpan puluhan candi yang dianggap sebagai yang tertua di Pulau Jawa. Sejumlah pakar arkeolog memprediksi dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara (abad ke-5 sampai ke-6 M).

Sebaran candi di Kompleks Situs Candi Batujaya tersebut diperkirakan mencapai 5 km2. Berada di tengah-tengah areal pesawahan dan sebagian berdekatan dengan permukiman penduduk. Sebagian besar bangunan purbakala masih tertimbun dalam ‘unur’ atau ‘lemah duwur’ (tanah darat menyembul di antara pesawahan).

Sunarto –petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten yang ditemui beberapa waktu lalu, mengatakan, di Kompleks Candi Batujaya terdapat 46 titik sebaran candi, namun tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan bertambah, seiring ditemukannya unur-unur yang lain.

Adapun candi yang sudah dipugar dan sudah memiliki bentuk, meski belum sempurna ada 4 buah, antara lain Candi Jiwa atau Batujaya I, Candi Blandongan atau BatuJaya V, Candi Serut atau Batujaya VII, dan Candi Sumur atau Batu jaya VIII.

Hal yang menarik di sana, semua bangunan candi menghadap ke arah yang sama, yaitu 50 derajat dari arah utara. Umumnya candi-candi ini terkubur di dalam tanah sekitar 1 – 3 meter. Jadi pelataran candi berada di bawah 1- 3 meter dari permukaan sawah. Sehingga candi-candi itu rawan tergenang.

Dari semua candi yang ada, Candi Jiwa merupakan situs yang sudah populer di masyarakat. Berikut rincian nama candi yang sudah dipugar dan terlihat bentuknya.

Candi Jiwa

Situs Candi Jiwa merupakan satu dari puluhan candi di sana yang paling populer. Sebelum diekskavasi pada 1985-1986, lokasi berdirinya Candi Jiwa semula berupa bukit kecil. Penduduk setempat menyebutnya Unur Jiwa. Unur ini berbentuk hampir lonjong, dengan ketinggian 4 meter dari permukaan tanah di sekitarnya, dengan luas mencapai sekitar 500 m2.

Dilihat dari arsitekturalnya, Candi Jiwa agak berbeda dengan Candi Blandongan, meskipun keduanya berada di kawasan Batujaya. Di keempat sisi Candi Jiwa tidak terdapat tangga naik atau pintu masuk. Kaki candi memiliki susunan perbingkaian atau pelipit rata (patta), pelipit penyangga (uttara), dan pelipit setengah lingkaran (kumuda).

Badan candi tampak sempurna hingga bagian atas, ukurannya 19×19 meter. Berbentuk bunga padma atau bunga teratai. Pada struktur bangunan candi itu, terdapat susunan bata melingkar yang ditopang susunan bata rolak.

Silakan baca: Rumah Rengasdengklok, Saksi Bisu Sejarah Proklamasi

Beberapa ahli menduga candi ini merupakan bekas stupa atau lapik arca Budha. Jika diperhatikan secara keseluruhan, bentuk Candi Jiwa yang tidak mempunyai tangga, seolah-olah menggambarkan stupa atau arca Budha di atas bungai teratai yang sedang mekar dan terapung di tengah telaga.

Di halaman sekelilingi candi juga ditemukan struktur hamparan pasangan bata yang menutupi permukaan tanah. Pinggirannya dibatasi dengan bata yang dipasang tegak memanjang. Memperlihatkan sebuah jalan yang dibuat mengelilingi kaki candi. Dapat dipastikan merupakan sebuah jalan (patha) untuk keperluan pradaksina, yakni ritual pemujaan dengan cara berjalan mengelilingi candi searah jarum jam.

Candi Blandongan

Situs ini pertama kali diekskavasi antara tahun 1992 dan 2000 oleh Puslit Arkenas. Sebagian badan candi menjorok ke dalam tanah atau permukaan alas candi berada di kedalamanan antara 2-3 meter lebih rendah dari permukaan sawah di sekitarnya.

Candi Blandongan Kompleks Situs Candi Batujaya
Candi Blandongan di Kompleks Situs Candi Batujaya Karawang.

Candi Blandongan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 25×25 m. Di bagian atas kaki pada keempat sisi candi terdapat tangga masuk dan pagar langkan. Di bagian tengah candi masih terdapat sebuah bangunan berukuran 10×10 m. Sehingga tampak bertingkat.

Kemudian di antara badan candi dengan pagar langkan terdapat sebuah lantai bata dengan di lapisi beton stuko setebal 15 cm. Bagian atasnya sudah runtuh dan tidak diketahui bentuknya. Namun diduga berbentuk stupa yang massif, berupa susunan bata yang dilapisi dengan beton stuko. Dugaan ini didasarkan atas temuan pecahan beton stuko berbentuk lengkung seperti bulatan stupa dengan ketebalan 20 cm.

Candi Serut

Situs yang terletak di Kampung Gunteng ini, mulai diteliti pada 1989 oleh Bakosurtanal bersama Fakultas Geografi UGM dan Ditlinbinjarah. Mulai diekskavasi pada 2007 dan hingga sekarang masih terus diteliti.

Melalui tiga kali eskavasi hampir seluruh kaki candi dapat terlihat, dengan ukuran 13,65 m x 10,70 m, dan tinggi yang tersisa pada dinding bangunan sekitar 1,80 cm. Tinggi seluruh bangunan candi sekitar 2,30 m. Terdapat lubang pada dinding candi bekas balok yang diduga sebagai pilar untuk alas candi. Juga ada lubang segi empat berukuran 1 m2. Sementara diperkirakan sebagai sumur.

Di dinding timur laut di sudut utara dan sudut timur terdapat tembok memanjang yang membentuk garis lurus dengan arah barat laut-tenggara. Candi tersebut tidak memiliki tangga naik atau pintu masuk di keempat sisinya, kaki candi mempunyai bentuk konstruksi seperti sebuah “bak” yang berdiri di atas sebuah pondasi.

Penggalian candi baru sebatas pinggiran dinding candi dan air masih menggenang, sehingga candi masih nampak terkubur sebagian. Dilihat dari penampang luar, candi ini mirip dengan pondasi rumah biasa dengan kamar-kamar di dalamnya dan dilengkapi sumur serta lantai papan.

Candi Sumur (Segaran IX)

Candi Sumur posisi berada di tengah sawah sebelah barat Kampung Sumur. Tahun 1992, situs ini pertama diekskavasi oleh Puslit Arkenas dengan hasil penemuan berupa bangunan bata empat persegi panjang berukuran 7,35×10,55 m di sisi barat daya, ketebalan dindingnya sekitar 1,70 m, sedangkan timur laut ketebalan dindingnya lebih dari 4 m.

Kompleks Situs Candi Batujaya dibuka untuk umum setiap hari. Mulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, sekitar Rp5000,- per orang. Dilengkapi fasilitas umum, seperti area parkir, tempat duduk, kedai kuliner, toilet, dan lainnya.

Rute menuju ke sana dapat mengikuti akses Jalan Raya Baturaja yang terletak di wilayah Rengasdengklok. Dari situ tinggal mengikuti jalan sampai menemui lokasi candi dengan menyusuri aliran Sungai Citarum. Lokasi pun berdekatan dengan pantai Karawang.*