BandungKlik – Tas tradisional merupakan perlengkapan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia, salah satunya koja dari Baduy, Provinsi Banten.

Keberadaan tas tradisional ini, bahkan sudah begitu akrab dengan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Selain di Banten, tas macam ini juga dapat ditemukan di beberapa daerah di Nusantara, seperti noken dari Papua.

Koja, sebagian orang menyebutnya jarog, digunakan masyarakat Baduy untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Selain berladang, mereka juga memanfaatkan fungsi tas ini untuk bercocok tanam dan menangkap ikan di sungai.

Sering kali barang-barang hasil bumi juga dimasukkan ke dalam tas ini. Oleh karena itu, koja begitu dekat mendampingi masyarakat Baduy ke mana pun pergi.

Unik memang, tas tradisional ini terbuat dari bahan dasar yang diperoleh dari alam setempat. Namanya teureup atau benda. Pohon jenis ini masih kerabat pohon nangka dan banyak tumbuh subur di tengah masyarakat Baduy.

Tas koja berasal dari kulit teureup yang kering. Belahan kecil-kecil kulit inilah yang kemudian dipilin dan dibentuk helaian benang sebagai bahan pembuatan tas. Warnanya cokelat natural. Hasilnya, dengan keterampilan dan keahlian pengrajin, tas anyam bertali selendang ini kuat dan artistik.

Harganya juga sangat bersahabat di dompet, mulai dari 50 ribu rupiah tergantung ukuran dan rapatnya anyaman. Salah satu keunggulan koja adalah tahan lama terkena rayap.

Jika melancong ke daerah Banten, kita bakal mudah menemukan tas yang dibuat secara manual ini. Misalnya, di Pasar Lama di bilangan Jalan Maulana Hasanudin, Serang, cukup lengkap menjajakan buah tangan khas Banten.

Kenyataannya, tas koja khas Baduy sudah banyak dipakai pula oleh masyarakat luar Baduy untuk keperluan sehari-hari. Tas praktis dan unik ini tak hanya diminati orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka mengenakan tas koja untuk melengkapi penampilannya saat berpakaian pangsi pada acara tertentu. *

 Silakan baca: Debus, Seni Budaya Banten Bernuansa Islam