Khombow, Lukisan Kulit Kayu Khas Papua

Khombow Khas Papua
Khombow Lukisan Kulit Kayu Khas Papua. (dok. Kemdikbud)

 

BandungKlik – Di sekitar Danau Sentani Papua terdapat kampung Asei Pulau yang sebagian masyarakatnya ahli dalam melukis di atas kulit kayu yang disebut Khombow. Lukisan Khombow khas Papua ini merupakan warisan budaya dari nenek moyang mereka.

Khombow dulunya digunakan sebagai pakaian (Malo) oleh perempuan Sentani yang sudah menikah. Karya seni tersebut memiliki nilai filosofi yang sangat tinggi bagi orang Sentani.

Sebab, pada masa lalu khombow sebagai pakaian hanya digunakan 3 kali dalam kehidupan mereka, yaitu pada saat seorang anak lahir dijadikan sebagai pembungkus bayi, saat seorang perempuan menikah, dan ketika seseorang meninggal dunia digunakan untuk membungkus jenazah.

Ragam motif Khombow khas Papua ini pun mengandung arti dan makna yang bersifat sakral untuk orang Sentani, karena ada motif yang hanya khusus untuk Ondofolo (pemimpin adat), Khoselo, dan perangkat adat lainnya seperti motif Buaya dan Yoniki.

Sejak dulu jenis motif lukisan khombow kurang lebih ada 12 motif. Diantaranya motif matahari, motif ular, motif cicak, kadal, Ikan, kaki burung bangau, belut, kelelawar,tupai terbang, daun-daun, bunga hutan, dan lainnya.

Silakan baca: Dukung PON XX Papua, Bandara Sentani Dipercantik

Kemudian ada pula lukisan yang berhubungan dengan aspek religi dan mitologi, seperti lukisan Hu dan Yoniki. Lukisan yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi, seperti Fouw, Kasindale, Isomo dan Kino.

Namun kini setelah khombow menjadi salah satu cendera mata khas Papua dari Sentani, muncul sejumlah motif baru yang lebih kekinian. Seperti motif orang menari dan memanah, burung cenderawasih, orang sedang  menebar jaring, gambar ikan-ikan, dan alat musik pukul tifa, dan lain-lain.

Bahan kulit pohon yang bisa digunakan untuk papan lukis pun tidak sembarang. Hanya pohon tertentu yang dalam bahasa orang Asei disebut pohon khombow. Pohon ini harus ditebang dan dipotong-potong, baru dikelupas kulitnya. Memang tidak mudah mencari kayu khombow. Sehingga mereka harus membudidayakan agar bisa lestari.

Usai dikelupas, kulit kayu pohon itu ditumbuk dan dikeringkan. Setelah itu baru bisa dipakai sebagai lembaran untuk melukis. Permukaan kulit kayu yang kasar menyebabkan proses melukis tidak mudah dan dibutuhkan waktu cukup lama. Paling cepat 10 menit dan paling lama satu jam, untuk selembar lukisan berukuran kurang dari 50×50 cm persegi.

Silakan baca: 10 Seni Tradisional Indonesia yang Memukau Dunia

Pewarna yang digunakannya terbuat dari warna-warna bahan alami. Semisal warna hitam bisa diambil dari arang kayu, putih dari kapur sirih dicampur minyak kelapa, dan merah dari serpihan batu yang ditumbuk halus. Jika salah metode perwarnaannya dan keliru bahan, maka motif yang dilukis di kulit kayu mudah terhapus.*

 

Sumber: indonesia.go.id