Kasepuhan Ciptagelar Pertahankan Kearifan Lokal

kampung adat ciptagelar
Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar. (Bappeda Jabar).*

 

BandungKlik – Rindu suasana perkampungan yang alami dan sarat kearifan lokal? Berkunjung saja ke Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar.

Secara administratif, kampung bersahaja ini berada di Desa Sirnaresmi Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi.

Lantas, mengapa disebut kasepuhan? Ya, karena kampung ini punya model kepemimpinan yang berasal dari adat dan kebiasaan orang tua atau sesepuh. Secara harfiah, kasepuhan dapat diartikan sebagai tempat tinggal sesepuh atau mereka yang dituakan.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar berjarak sekira 28 kilometer dari Palabuhanratu. Sebagai kampung adat, kasepuhan ini punya beragam daya tarik mulai dari arsitektur rumah hingga sistem bercocok tanam.

Masyarakat hukum adat ini tinggal di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak di ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut. Wilayah pergunungan ini mencakup Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat serta Kabupaten Lebak Provinsi Banten.

Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar sudah berusia lebih dari 650 tahun. Sebermula, perkampungan dibangun pada tahun 1368.  Hingga sekarang, kampung ini masih memegang kuat adat dan ajaran leluhur, seperti bentuk rumah dan tradisi.

Siklus padi

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar kaya akan upacara adat yang berkaitan dengan pertanian. Seluruh sendi kehidupan adat didasarkan kepada kalender siklus padi. Leuit bagi masyarakatnya tidak hanya berarti lumbung padi tetapi berkaitan dengan simbol penghormatan pada Dewi yaitu Nyi Pohaci.

Ritual Sérén Taun menjadi puncak kegiatan upacara di kampung tersebut yang digelar setahun sekali. Upacara ini selalu menjadi magnet bagi wisatawan.

Warga Kasepuhan Ciptagelar mayoritas bekerja sebagai petani khususnya yang mukim di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sementara sebagian kecil bekerja sebagai peternak, buruh, pedagang, dan pegawai.

Sedikitnya ada 120 jenis padi di kampung ini. Lumbung-lumbung padi di sana ada sekira 8.000 untuk kebutuhan seluruh masyarakatnya.

Meski sudah tersedia prasarana listrik tetapi sistem bercocok tanam tetap dilakukan secara tradisional. Ada aturan yang mengikat, seluruh hasil bumi di kampung tersebut boleh dijual, kecuali padi. *

 

Silakan baca: Kasepuhan Cipta Mulya, Tetap Menjaga Tradisi Leluhur

Silakan baca: Kunjungan Ridwan Kamil ke Kasepuhan Ciptagelar